Je t’aime chimiquement ………………….. I love you chemically


(dari Lepoint.fr)

Mungkin kabar ini bisa membuat kecewa yang beranggapan “Love is magic” . Beberapa waktu terakhir ini para peneliti menyatakan kalau cinta adalah kerja dari transmisi sel syaraf (neuron) dan hormon-hormon. Selama beribu-ribu tahun pikiran dan perasaan dianggap terpisah dari sistem tubuh. Saat ini, seorang neurobiologist, Prof Bernard Sablonniere yang mempelajari fungsi sel syaraf (neuron) di Rumah sakit Lille (Daerah Perancis sebelah utara) menyatakan secara ilmiah masalah tabu yang dikatakan dualisme antara roh dan tubuh. Sistem foto image (imaging system) kedokteran modern sangat berperan dalam hal ini menjelaskan ada area cerebral (otak) yang diaktifkan oleh pertemuan dan perasaan.
Menurut para ahli, cinta terjadi dari beberapa tahap. Suatu proses dinamis yang merupakan efek kombinasi beberapa daerah dari sistim syaraf yang terbagi menjadi beberapa tahap yang bertingkat dalam waktu dan juga bertahap dari perhatian, ketertarikan, keterikatan, keinginan (desire) dan hubungan yang tahan lama antara dua pasangan.

Aroma/Bau

Awalnya, apa yang memulai suatu hubungan ? Beberapa penelitian menyatakan faktor aroma/bau merupakan faktor penting dalam suatu ketertarikan karena aroma/bau menuju ke penerima indera penciuman lalu menuju ke amygdale, bagian pusat emosi otak yang terhubung dengan hippocampus yang membuatnya terlibat dalam suatu memori.Itulah kenapa kita selalu menghubungkan bau-bauan dengan suatu emosi yang spesifik. Wanita lebih peka terhadap aroma pasangannya. Ketertarikan merupakan tahap awal dari suatu hubungan cinta itu adalah hukum dasar semua makhluk hidup, selanjutnya keterikatan merupakan faktor utama dalam suatu hubungan. Beberapa neurobiologist berpendapat kalau berbagai stimulasi dan bermacam-macam variasi hormon atau kejadian-kejadian diluar tubuh memfasilitasi otak menjadi lebih menangkap stimulus-stimulus dari orang-orang dan lingkungan sekitar. Baik itu visual, auditif ataupun aroma akan merangsang amygdale tanpa keinginan dari cortex secara sadar. Hal inilah yang menjelaskan kesulitan kita untuk menggambarkannya saat kita merasakan cinta itu.

Rasa tidak aman (Insecurity )
Secara fisiologis, perilaku ini mendorong kenaikan sekresi hormon secara cepat, yaitu vasopressine dan ocytocine. Yang terakhir inilah yang mendorong kontraksi uterin selama melahirkan dan juga menimbulkan naluri keibuan, kenyamanan dan keterikatan. Ocytocine juga mendorong kepercayaan kepada pasangan dan empati.
Ketertarikan terdiri beberapa tahap : pandangan (tatapan dan senyuman), aroma (melalui parfum), auditif (dari desah dan suara), rasa dan sentuhan.
Fase ini tidak hanya diikuti oleh stress tapi juga mengaktifkan jalur kepuasan. Setelah jalur ini teraktifkan maka akan membawa kita terlalu cepat untuk mendapatkan kepuasan, memberikan warna dalam meleburnya hubungan walaupun kadang tidak selalu bagus. Agar ketertarikan bertahan lama maka level rasa tidak aman dan kecemasan dalam suatu hubungan harus dijaga dalam arti dalam dosis yang halus dari efek neurotransmittor dan kelakuan-kelakuan kita yang dapat diatur oleh memori kita, keputusan-keputusan kita dan pendidikan kita. Suatu alkimia yang benar-benar halus !!!!

Advertisements

About anaroeni

someone that has a lot of thing in her head and need to express her ideas to be shared with other people
This entry was posted in Non- Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s