Life is beautiful


Jakarta, 08 March 2012


Benarkah ? mestinya itu tergantung suasana yang kita hadapi. Tapi masih bisakah kita bilang demikian saat kita ditimpa kesusahan yang bertubi-tubi?. Ketahanan tiap orang untuk mengatakan “hidup ini indah” memang berbeda-beda. Jadi perasaan itu juga tergantung dalam diri manusia ? Jawabannya “iya”. Contoh yang paling sempurna adalah memang dalam film “Life is beautiful” atau “La vita e bella” . Di tengah penderitaan yang menguras airmata dari seorang Yahudi Italia, Guido Orefice (diperankan oleh Roberto Benigni) di kamp konsentrasi Nazi , dia sanggup memberikan gambaran betapa indahnya dunia pada anaknya yang masih kecil.

Seorang teman Perancis pernah bilang “ne porte pas les lunettes noires dans la vie, choisir les lunettes roses” . Dalam hidup ini jangan pakai kacamata hitam tapi pilih kacamata merah jambu. Mudah memang untuk dikatakan tapi sulit untuk dilakukan.

Saya mempunyai teman yang divonis kanker payudara. Beberapa kali kemoterapi dia jalani tapi dia masih sering jalan-jalan dengan kita, kongkow-kongkow , cerita-cerita, termasuk usaha dia berjuang melawan kanker. Semua itu dia ceritakan dengan biasa-biasa saja bahkan diselingi cerita-cerita lucu tanpa setitikpun airmata. Kitapun terbawa dan membuat kita menganggap itu kejadian yang biasa-biasa saja. Sampai suatu saat di detik-detik waktu terakhirnya, diwajahnya yang pucat, dan gurauan-gurauannya kami melihat betapa dia menahan kesakitannya yang amat sangat dan kami melepaskannya ke akhir penderitaannya. Wajahnya masih tetap tersenyum.

Atau seringkali kita lihat suatu keluarga: bapak, ibu dan anak-anak . Mereka hidup di gerobak pemulung mereka. Kebahagiaan masih terpancar, di malam hari, seusai seharian bekerja keras mengumpulkan sampah-sampah, mereka makan malam sederhana beralaskan tikar beratap langit malam hari di bawah lampu jalan Jakarta. Canda-canda bahagia mereka terdengar diantara lalu lalang kendaraan.
Jadi kenapa kita merasa tidak bahagia ? merasa tidak bersyukur dengan apa yang kita punya dan kita hadapi. Saya sudah berjanji untuk selalu meengucap syukur setiap hari dengan apapun yang terjadi karena saya masih bisa menghirup udara kehidupan. Masih teringat 3 tahun yang lalu saat nafas sesak satu-satu dan harus bernafas dibantu dengan tabung oksigen. Tapi rasa tak bahagia, frustasi bisa selalu muncul karena memang kita manusia. Bersyukur memang mungkin itu kata kuncinya?

Advertisements

About anaroeni

someone that has a lot of thing in her head and need to express her ideas to be shared with other people
This entry was posted in Non- Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s