Aku tidak minta dilahirkan miskin….


Jakarta 17 Agustus 2011.

Hari ini libur 17 Agustus, aku manfaatkan kesempatan untuk ke tempat Omku… mumpung!! … karena kalau hari biasa pasti tidak sempat karena kalau pulang sudah malam. Kalau week end ? pasti sudah diajak kemana-mana sama teman-teman 🙂 . Banyak alasan emang.. he..he..he… Seperti biasa aku memilih melewati jalan pintas yang lumayan cepat melewati daerah rumah-rumah petak yang padat .. lumayan kumuh dan banyak orang duduk di pinggir-pinggir jalan gang ini. Ada yang menaruh kompornya di pinggir jalan gang, mencuci baju dan piring dipinggiran jalan, ibu-ibu asyik ngobrol sambil belanja di abang-abang penjual sayur….. Ya… karena rumahnya tidak mencukupi maka kegiatan masak-memasak , cuci mencuci dilakukan di pinggir jalan gang bahkan ada yang menjemur kasur, baju di jalan gang itu. Uhhhh udara panas meskipun masih pagi. Aku cari-cari tissue lagi untuk mengelap keringat. Sial !!! ternyata sudah habis… bisss!! Tadi adalah tissue terakhirku. Keringat sudah banyak menetes ngga karuan…. Di kejauhan sana sepertinya ada warung kecil. Yaahhh untunglah!!
“ Bu bisa minta tissuenya satu ?“
Ibu penjual warung sedang sibuk menggoreng tempe. Seorang anak perempuan sekitar 8 tahun sedang menggendong adiknya dan menyuapinya.
“Tik ambilkan tissue buat mbaknya “
Anak itu mengambilkan tissue. Adiknya yang digendongan meronta-ronta.
“Tidak ikut upacara dik? “. Dia menggelengkan kepalanya pelan. Ibunya sepertinya mendengar pertanyaanku.
“Saya sudah suruh berhenti sekolah mbak, biar dua orang kakaknya yang laki-laki yang meneruskan sekolah, dia khan perempuan biar membantu saya mengurus rumah dan jaga warung”
“Lagipula juga tidak sanggup membiayai dia sekolah, tahu sendiri khan mbak biaya sekolah mahal”
Aku menghela nafas. “Ooooo…. Begitu ya bu”
Anak di gendongan itu sekarang mulai menangis, lama-lama bertambah kencang.
“Gimana sich Tik kamu ini disuruh menyuapi aja nggak bisa!!”
“Dia minta tempe lagi bu” kata si Atik
“Udah kasih kecap aja, ini nanti buat dijual nanti sore!!”
Aku tertegun sejenak, lalu aku tinggalkan warung itu.
66 tahun sudah Indonesiaku Merdeka, tapi gurat-gurat kemiskinan itu aku lihat di sepanjang gang ini. Rumah petak dari papan, beralas tanah dan tikar-tikar di dalamnya untuk tidur. Yahhhh pemandangan seperti ini banyak terlihat di balik gemerlapnya ibukota Jakarta tercinta ini.

Advertisements

About anaroeni

someone that has a lot of thing in her head and need to express her ideas to be shared with other people
This entry was posted in Jurnal. Bookmark the permalink.

2 Responses to Aku tidak minta dilahirkan miskin….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s