Mak Jogi: Dari Melayu mengarungi lautan nusantara


Jakarta, 26 Juli 2011

Pertunjukkan keempat Indonesia kita berjudul: Akar Melayu… Mak Jogi. Semula saya mengira budaya Melayu itu meliputi seluruh pulau Sumatra, ternyata budaya Melayu terkonsentrasi di Riau (CMIIW). Dari wisata kulinernya yang ditemui adalah nasi lemak, lemang .. itu yang khas , yang lain yang ada disitu adalah makanan umum yang ditemui di semua tempat di Indonesia. Yang istimewa kali ini aku ketemu dua bule dari Canada yang sangat excited untuk melihat pertunjukkan ini.
“ Excuse me , but can you understand the language ?”
“ We just would like to enjoy the dance performance, it must be excellent” .
Aku cuma bengong. Dua orang ini baru sehari sampai di Indonesia dan berencana dua minggu keliling Indonesia dan sepertinya tergila-gila dengan Indonesia., Mengapa kita tidak ? 🙂
Alkisah di suatu negeri Melayu, Baginda raja yang seorang wanita (Pepy Chandra) sedang gundah gulana karena bermimpi ada cahaya yang begitu terang mendatangi negerinya, negeri Sepancungan Daun. Dari beberapa penafsiran dari Hang Dagang (Joned), Penasihat (Effendi Gazali) , Hang Panglima raja (Ramon Damora) dan awang pengasuh (Hoesnizar Hood) diambil kesimpulan akan adanya bahaya yang akan mendatangi negeri itu. Kerajaan harus mencari air 7 muara untuk menyelamatkan kerajaan. Beberapa penasihat diutus (Hang Dagang dan Hang Panglima) tetapi awang pengasuh mengusulkan mak Jogi (Tom Ibnur) untuk diikut sertakan.
Tempat yang pertama dikunjungi adalah Tanah Minangkabau. Nuansa Minangkabau dibentuk dengan tarian silat Randai. Disini Hang Dagang yang mengandalkan uang suap dan Hang Panglima yang mengandalkan kekerasan tidak berhasil memperoleh air muara. Tetapi tanpa disangka Mak Jogi yang menggunakan pendekatan seni berhasil memperoleh air dari muara.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ditanah Jawa , di suatu tempat di gunung Dieng bertapalah seorang pertapa (Wisben) dan istrinya Nyi Thowok (Didik Nini Thowok). Di tempat ini pula Mak Jogi berhasil memikat Nyi Thowok karena sesama penari, untuk menyerahkan air muara. Hang Dagang dan Hang Panglima gagal lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke daerah Kalimantan. Sekali lagi Mak Jogi berhasil menjalankan misinya.
Cerita dirangkai begitu apik dari séance ke séance dengan bantuan pencerita dari Aceh (Agus PM Toh) yang kali ini mendapatkan asisten dari Jawa (Gareng Rakasiwi). “Baru kali ini orang Aceh memimpin orang Jawa” katanya 🙂 .
Memang melucu perlu kecerdasan, dan kita merasakan kecerdasan yang ditampilkan trio GAM (Joned, Wisben dan Gareng Rakasiwi). Walaupun saat-saat tertentu lelucon Jawanya terlihat begitu kental tapi tidak mengurangin nuansa kental melayu yang berasal dari tatanan apik tarian Melayu, lantunan lagu Zapin yang mendayu yang dinyanyikan oleh Radja Hafizah. Pasti sudah pernah dengar lagu ini, lagu ini pernah dinyanyikan Iyet Bustami. Yang tidak kalah menarik adalah permainan biola pemain biola ganteng, Hendry Lamiri 🙂 .

Sungguh terpesona dengan tarian-tarian Melayu yang rancak dan elok. Tidak sabar menunggu rangkaian budaya yang digabung dari seluruh Nusantara. Semoga pada pementasan yang akan datang saya masih di Indonesia 🙂

Advertisements

About anaroeni

someone that has a lot of thing in her head and need to express her ideas to be shared with other people
This entry was posted in Jurnal. Bookmark the permalink.

2 Responses to Mak Jogi: Dari Melayu mengarungi lautan nusantara

  1. dimana sih pementasannya mbak arum?

    kalyanamandita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s