South Africa : Time for fun and adventure (3)


Cape Town, Agustus 2005

Wisata Afrika menawarkan adventure di alam liar. Kurang lebih ada 19 National Park di South Afrika. Setelah pilih-pilih akhirnya ditentukan pergi ke Karoo National Park. Tempatnya agak jauh di sebelah utara Cape Town. Dalam perjalanan menuju kesana… aku bayangkan betapa susahnya memulai kehidupan disini apabila tidak hidup di kota besar. Tanah seperti gundul, tandus, ya… ini daerah semi aride… tidak ada pohon-pohonan. Sejauh mata memandang sepanjang jalan cuma ada tanah, bebatuan dan semak perdu succulent. Jauh nun disana ada bukit-bukit tanpa pohon, katanya disanalah banyak penambangan berlian dan batuan-batuan berharga… semua orang berbondong-bondong datang kesini untuk mencari berlian yang paling nomor satu didunia.

Setelah keluar dari jalan raya kami memasuki jalan kecil….. membelah tanah tandus seperti gurun pasir… aku dapat melihat horizon… nun jauh disana. Akhirnya sampailah aku di suatu pintu gerbang … ada rumah besar dengan bendera South Africa dan Perancis dan di depannya berderet-deret rumah-rumah kecil tempat para tamu menginap. Ohhhh indahnya !!! di sekitarnya ada bunga-bunga yang berwarna warni ditanam.
Aku 2 hari disini ada safari siang dan malam ke National Park lalu ada acara makan malam dengan semua orang disini. Perjalanan siang dimulai dengan mengendarai jeep … tujuan utama mencari gerombolan gajah….!! Sepanjang jalan yang ditemui kebanyakan kudu, eland, springbok, wildebeest… Kabarnya binatang-binatang ini sangat banyak dan dagingnya banyak dikonsumsi. Setelah itu jauh nun disana kami lihat gerombolan binatang berlari kencang…. Oooo ternyata segerombolan zebra !!. “Wait.. wait a minute” Guide kami turun, melihat-lihat ada jejak binatang “still fresh” katanya . “ What is this ?” “You’ll see “. Membuat kamu penasaran, lalu kami mengikuti jejak itu. Setelah semak-semak tersibak “wowww dua ekor rhinoceros!! ” sedang berjalan santai, sepertinya sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran kami. “You can touch it” kata si guide…. Iiiiihhh ntar kalau tiba-tiba ditendang :(. Aku tarik lagi tanganku lalu naik lagi ke kendaraan.
Jalanan sepanjang National Park adalah jalan tanah kadang agak susah melewatinya apabila ada kubangan, tapi sepertinya si sopir sudah sangat ahli. Dan…. Setelah melewati dengan susah payah suatu sungai kecil… di kejauhan ada segerombolan binatang tinggi.. sekawanan jerapah. Kata guide kami, binatang ini tidak akan terusik walaupun kita di dekatnya dan menyentuhnya…. Ya aku menyentuhnya dia tetap dengan tenang menikmati makan siangnya… daun-daunan sejenis pohon akasia. Kalau aku lihat sich banyakan durinya daripada daunnya.. kalau daun sudah habis.. kawanan jerapah ini baru akan pindah. Kami akhirnya menuju jalan pulang.. target kami mencari gerombolan gajah tidak berhasil. Katanya mungkin mereka sedang mendekati semacam danau yang letaknya agak jauh dari tempat kami. Di tikungan kami bertemu dengan kerbau asli daerah itu Cape Buffalo, warnanya hitam, sedang malas-malasan tiduran, cuma memincingkan matanya waktu kami lewat.
Keluar dari area National Park, kami menemui deretan perumahan orang kulit hitam yang sebagian besar bekerja di National Park. Ada terlihat beberapa ibu-ibu dan anak-anak bermain-main, potret suatu perkampungan. Tapi yang menurut aku menyedihkan … hidup di tanah gersang ini, sepertinya tidak ada pertanian :(.
Malamnya kami menikmati makan malam bersama, jalan-jalan menuju ke rumah besar tempat makan malam dinyalakan lilin-lilin. Kami pergi menuju tempat itu mengikuti nyala-nyala lilin. Sampai di dalam sungguh sangat romantis penuh lilin-lilin dan dekorasi khas afrika. Ada yang berminat bulan madu disini.. ? Dijamin sangat bagus !! 😀 . Makanan disajikan ala Perancis karena katanya pemiliknya orang Perancis. Sejenis steak sapi sebagai makanan utama dan crème brule sebagai dessertnya dan tentu saja segelas wine asli South Africa. Orang Perancis yang mulai, katanya, dengan gigihnya membuka perkebunan anggur (vineyard) disini. Ada orang Perancis yang terkenal memulai vineyard di South Africa namanya Huguenots, namanya kemudian diabadikan menjadi nama tunnel di dekat Capetown.
Malamnya kami tidur nyenyak, kamar didekorasi secara etnik dengan kelambu besar menutupi tempat tidur. Penjaga berpesan untuk menutup jendela rapat-rapat takut ada binatang yang melewati pagar. Sungguh aku bersyukur bisa menikmati keindahan ini !!

Advertisements

About anaroeni

someone that has a lot of thing in her head and need to express her ideas to be shared with other people
This entry was posted in Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s