South Africa : bersahabat dengan HIV/AIDS


Cape Town, South Africa, July 2005


Di South Africa aku diberi tugas penelitian tentang bakteri TBC, terutama bakteri yang sudah mengalami mutasi sehingga menyebabkan bakteri ini resisten terhadap obat. Seperti diketahui penyakit TBC adalah infeksi opportunistik pada penderita HIV/AIDS. Apabila HIV dan TBC bersama-sama dalam satu tubuh manusia maka keduanya menciptakan kerjasama sehingga saling memperparah satu dengan yang lain dan membawa penderita ke dalam kematian. South Africa adalah negara yang mempunyai prosentase orang dengan HIV/AIDS paling tinggi di dunia yaitu hampir 12%. Bahkan provinsi Kwazulu-natal prosentasenya mencapai 26%. Dalam suatu seminar ilmiah di Medicine Faculty, Stellenbosch University ada studi tentang bakteri TBC pada populasi HIV di suatu daerah yang penderita HIV/AIDS nya mencapai 50%. “ What ??!!! 50%?” Ya… benar-benar ada ! Tapi mereka sudah lama menjalani semua itu, tidak ada diskriminasi apapun. Di lingkungan masyarakat dibentuk kelompok-kelompok yang melayani penderita HIV/AIDS ini.


Kembali lagi, oleh karena hubungan yang sangat erat ini antara bakteri TBC dan HIV ini, maka terdapat pusat penelitian yang cukup besar yang fokus pada TBC, yaitu tempat aku bekerja sekarang. Dalam penelitian tentang gen bakteri TBC yang aku lakukan ternyata bakteri TBC yang resisten terhadap obat kebanyakan mempunyai pola gen yang khusus yang disebut “Beijing Type”. Meskipun begitu, di Afrika Selatan terdapat juga pola gen yang lain selain “Beijing Type “ yang juga resisten terhadap obat.

Lab tempat aku bekerja sangat besar dan aku sering tersesat 🙂 . Pintu-pintu Universitas mempunyai sistem sekuriti yang sangat ketat. Setiap orang yang bekerja di sini mempunyai kartu pass untuk memasuki pintu yang berlapis-lapis itu. Kebanyakan peneliti adalah kulit putih, tetapi terlihat sudah banyak generasi muda kulit hitam yang masuk. Pekerjaan penelitian disini tidak terlalu berat dibandingkan di Indonesia, fasilitas dan bahan sudah tersedia dan kita tinggal konsentrasi dan berdiskusi tentang masalah ilmiah. Walaupun keadaan sangat jauh dibanding dengan di Eropa dimana aku dulu pernah bekerja, tetapi fasilitas pusat penelitian cukup lumayan bagus. Seperti di Eropa, mereka suka kumpul, bawa makanan masing-masing,pesta kostum dan lain-lain. Bedanya kalau di Eropa, setelah kerja di lab bisa keluar ke restaurant ke club ke café.. dan teman-teman mengajak jalan-jalan mengunjungi tempat-tempat dengan gratis tanpa imbalan karena pendapatan mereka memungkinkan untuk itu. Kalau di Afrika selatan kita masih dituntut memberikan imbalan kalau jalan-jalan 🙂 dan no club .. no restaurant kecuali dibayari kantor 🙂 .
Suatu malam, tengah malam….. ada suara keributan , aku buka jendela ada gerombolan cowok berlari-lari mengitari gedung dan……. Ya ampunnnnnn they’re totally naked ! in the middle of winter season OMG !! setelah itu terdengar suara cewek-cewek berteriak heboh dari gedung sebelah sambil melambai-lambaikan kain… Keesokan harinya aku bertanya ke temanku di lab. Kata mereka itu tradisi di kampus menyambut musim dingin, cowok-cowok tengah malam telanjang mengelilingi bangunan asrama mahasiswi……….. ohhh noooooooooo!! Lalu teman-temanku tertawa terbahak-bahak…. “Hi tell me ! What did you see?” Ohhh aku benar-benar kehilangan kata-kata 🙂

Advertisements

About anaroeni

someone that has a lot of thing in her head and need to express her ideas to be shared with other people
This entry was posted in Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s