Saat cinta tidak lagi putih…..


Malam ini hujan rintik-rintik…. Aku menjalankan mobilku pelan-pelan, Jakarta yang macet di malam minggu membuat mobilku banyak berhenti dan jalan pelan-pelan. Radio tiba-tiba memperdengarkan lagu… Leaving on a Jet Plane nya John Denver… Damn it !! Aku matikan radio cepat-cepat. Lagu itu.. lagu itu mengingatkanku pada masa lalu.. pada manusia yang paling kubenci di dunia ini yang bernama Agie. Empat tahun yang lalu… masa-masa indah itu yang kita jalani antara Jakarta dan Yogya. Oh… sial.. kenapa air mata ini masih saja selalu keluar setiap kali teringat akan hal itu. Siang tadi aku habiskan waktu dengan sahabatku Dewi, seperti biasa bercerita tentang apa saja. Sebelum aku meninggalkan rumahnya dia sempat bertanya “ Sepertinya kamu sudah melupakan cerita lama itu, syukurlah” katanya dengan tersenyum. Dengan yakin aku menjawab “ Ya, aku sudah memulai hidup baruku , Dewi, itu cuma cerita masa lalu yang sudah lama aku kubur dalam-dalam” Ternyata saat ini muncul tiba-tiba di kepalaku.

Teringat pagi itu, sebelum aku pergi ke kantor, Hpku berbunyi, Agie dari Yogya menelponku, tidak biasanya pagi-pagi. Hubungan jarak jauh kami Jakarta-Yogya membuat telepon sarana yang sangat penting melepas rindu.
“Hai tumben pagi-pagi menelpon?” “udah kangen ya“ .
Ada suara berat di seberang sana “Ada hal yang akan kukatakan padamu“ .
“Ada apa?” “semua baik-baik saja khan ?” Aku mengira ada sesuatu yang terjadi pada ayahnya yang beberapa minggu yang lalu dirawat dirumah sakit.
“Reni, maafkan aku………………. Ini benar-benar bukan kehendakku, aku sudah mencobanya, tetapi aku tidak bisa menolak kehendak orang tuaku”. “Bulan depan aku harus menikah dengan gadis pilihan orang tuaku” “Dia anak teman ayahku “. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu”

Aku terdiam… tidak sanggup menjawab apapun… Aku berharap ini mimpi atau cuma candaan dia.. Aku berharap-berharap…. Tetapi itu tidak terjadi. Aku matikan telepon. Aku bingung… terduduk di kamar mandi. Telepon kembali berbunyi… Aku tidak sanggup mengangkatnya… tidak sanggup!.
Sesaat dunia menjadi gelap……. Aku berharap akan terus gelap tetapi ternyata aku terbangun oleh suara sms : Aku ingin bersimpuh dan memohon maaf padamu, aku tetap mencintaimu.. Tiba-tiba kesedihanku berubah menjadi amarah-amarah yang teramat sangat. Aku balas smsnya : Seumur hidup aku tidak akan memaafkan kamu dan semoga Tuhan akan memberikan balasan yang setimpal dengan perbuatanmu. Aku benci dengan kebohongannya, ternyata selama ini dia berhubungan dengan gadis lain. Tidak mungkin dia tiba-tiba menikah dalam waktu satu bulan. Dia selama ini pasti sudah berhubungan dan mengelabuiku dengan berbagai alasan. Ya… mimpiku yang terakhir yang melihat dia dengan gadis lain ternyata benar-benar terjadi. Apakah itu firasat yang diberikan Tuhan untukku?. Aku selalu percaya penuh padanya walaupun hubungan kami jarak jauh… Tetapi ternyata………………

Sejak itu aku tidak membalas semua sms dan emailnya. Aku block semua nomor-nomornya. Juga aku tidak pernah cerita tentang kenyataan bahwa aku terlambat datang bulan dan mengandung anaknya.
Bodohnya aku… setelah dua tahun pacaran aku percaya akan cintanya yang putih dan tulus… sampai aku percaya dan merelakan keperawananku padanya dua bulan yang lalu. Aku sudah percaya 100% , apalagi kenyataan dia sudah mau berkenalan dengan keluargaku. Dan aku tidak pernah curiga kenapa dia tidak pernah mengenalkanku ke orang tuanya. Sungguh pemain sandiwara yang ulung, penipu yang sangat licik.
Akhirnya aku memutuskan untuk mempertahankan bayi itu setelah mengalami krisis yang sangat panjang.. .. beberapa bulan aku tidak bisa makan… akhirnya temanku, Dewi, membawaku ke seorang psikolog di suatu rumah sakit setelah menemukanku tengah malam pulang setengah mabuk.
“Kamu tidak bisa terus-menerus hidup seperti ini Reni”
“Jalan hidupmu masih panjang kedepan dan ingat janin yang ada di perutmu itu”
Aku akhirnya memutuskan untuk menjaga bayi itu. Menjadi single parent. Aku memilih anakku tidak mengenal ayahnya yang bangsat itu.
Sasha…., kini sudah hampir tiga tahun, aku titipkan orangtuaku di Yogya karena aku tidak mungkin merawatnya sendiri di Jakarta dengan jadual pekerjaanku yang padat.

Tiba-tiba telephonku berbunyi
“Mama kapan pulang ke Yogya, Sasha kangen nich “
“Iya sayang, mama minggu depan pulang menengok Sasha”
“Bener ya mama, bentar lagi kata nenek aku boleh masuk playgroup dan belajar membaca, eh mama jadi khan beliin aku buku “
“Tentu sayang, udah dulu ya… nanti mama telpon lagi, mama lagi nyetir nich”
“Iya mama… da…daaaaa !!!”
Aku meneruskan perjalananku, kesedihan itu hilang pelan-pelan … Sasha hanya itu yang harus aku pikirkan sekarang…!!! lupakan masa lalu. Aku harus memikirkan ke masa depan… meskipun aku sudah tidak percaya lagi akan cinta putih itu…

Advertisements

About anaroeni

someone that has a lot of thing in her head and need to express her ideas to be shared with other people
This entry was posted in Fiction. Bookmark the permalink.

2 Responses to Saat cinta tidak lagi putih…..

  1. andreas imam says:

    terlalu umum, nggak ada efek kejutannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s