Oh… ayam bakarku………….


Jakarta, Juni 2011

Sepulang dari kantor aku sudah berencana membeli ayam bakar di tempat langgananku di depan rumah sakit. Hanya penjual ayam bakar itu yang mempunyai cita rasa yang pas di lidahku…. lidah Jawa. Dari depan kampus aku menyebrang jalan dengan sabar karena semua tidak mau kalah, bis, motor,angkot, bajaj, metromini semua ingin saling mendahului dan berhenti dimana saja seenak mereka sendiri .. huft… Tapi begitu sampai di depan rumah sakit aku celingak celinguk.. kok nggak ada apa-apa ? aku lihat jam tanganku… sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam… Aku Cuma bisa berdiri bengong.. balik kanan … menyusuri jalan dengan wajah bingung..nggak tahu mau kemana. Beberapa hari ini sudah kepikiran di kepala .. ayam bakar.. ayam bakar :). Wajar kalau kecewa. Beberapa meter setelah aku berjalan, aku melihat banya gerobak-gerobak bergerombol dan tampak masih belum menggelar dagangannya karena aku lihat ada bangku, terpal, kompor gas, di atas gerobak. Aku mengenali mereka pedagang-pedagang kaki lima yang biasa berjualan di depan rumah sakit. Dengan suara rendah mereka berbicara
“Tunggu saja sampai mereka pergi”
“Mereka tidak bakalan pergi, kita tidak bakalan bisa berjualan malam ini…. apes…apes…!”.
Aku menghampiri mereka, ada ibu penjual bakso yang juga langgananku.
“Ada apa sich bu?”
“O… mbak kita nggak bisa jualan, mulai hari ini dijagai satpol PP di depan rumah sakit dan dipasangin pot-pot besar”
“Oooo….begitu ya bu….”
Aku cuma bisa memandangi mereka…. Sedih 😦 tanpa bisa berbuat apapun dan juga jengkel tidak jadi makan ayam bakar kesenanganku. Dimana aku bisa dapat ayam bakar dengan rasa Jawa ? Sebelllll…………
Aku berjalan ke arah rumah sakit.. kali ini dengan tujuan pulang.. Satu truk satpol PP dan satu pick up terbuka dengan satpol PP yang duduk-duduk disitu tampak diparkir di depan rumah sakit. Sampai kapan mereka mau berjaga ? Hari sudah malam hampir jam 8 malam. Biasanya tempat itu sudah ramai dengan orang yang makan malam. Sebagian besar adalah yang menunggu di rumah sakit atau karyawan di rumah sakit. Harga di warung-warung kaki lima itu lebih terjangkau daripada kantin di rumah sakit atau restaurant-restaurant fastfood Internasional yang mulai tumbuh menjamur di sepanjang jalan ini. Mengapa pemerintah daerah tidak cenderung untuk memberikan tempat pada mereka yang memberi makan pada rakyatnya. Malam itu ayam bakarku cuma aku temui di dalam mimpi……

Advertisements

About anaroeni

someone that has a lot of thing in her head and need to express her ideas to be shared with other people
This entry was posted in Jurnal. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s