Le depart part 10 : Terpurukku di Paris


Paris Nov 1997

Setelah menyelesaikan semua modul kuliah di Marseille, aku harus mengikuti kuliah pilihan Immunology di  Paris. CROUS (yang mengurusi beasiswaku) memberi tiket kereta TGV (Train Grand Vittese) PP Paris-Marseille dan sudah mendapatkan reservasi di Cite Universitaire di Paris. Kereta TGV adalah kereta cepat inovasi asli Perancis dan semua orang kelihatannya bangga dengan kereta ini. Kereta cepat ini bisa mencapai kecepatan 500km/jam pada tempat-tempat tertentu tetapi pada rel kereta biasa kecepatannya melambat. Jarak Paris-Marseille adalah 785 km, dapat ditempuh dalam waktu 3 jam. Bayangkan jarak Jakarta-Yogya yang 443 km pasti dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 1,5 jam atau jarak Jakarta-Surabaya 855 dapat ditempuh dalam waktu 3 jam lebih sedikit. Wah pasti menyenangkan… : D Boleh dong bermimpi. Akhirnya sampailah aku di Paris lagi. Kali ini sendirian. Semua kereta dari daerah tenggara Perancis menuju station Gare de Lyon di Paris, disebut demikian karena awalnya kereta hanya sampai Lyon, suatu kota di tengah Perancis, baru kemudian rel diperpanjang sampai Marseille. Waktu aku datang aku tidak melewati jalur ini karena menuju ke barat daya yaitu Toulouse dan berangkat dari  stasiun Montparnasse. Gare de Lyon adalah stasiun cukup tua dibangun pada tahun 1900 (wuiiiihhhhhhhhh ck..ck..ck..) dengan arsitektur menyerupai Big Ben di London.

Sampai di Paris aku lalu naik metro (kereta bawah tanah Paris). Saat ini, kereta bawah tanah yang paling ruwet yang pernah aku temui seumur hidupku adalah di Paris. Ada 14 jalur dengan transit-transit yang bersilangan. Kalau keluar dari daerah Paris ke kota-kota satelit di sekitarnya (suburban) bisa naik 5 RER (Reseau Express Regional).  Jalur-jalur bawah tanah itu bertingkat-tingkat misalnya jalur 13 dibawah jalur 12, 4 dan 6 . Kupikir-pikir sampai berapa dalam ya… orang Perancis boleh menggali 🙂 . Daerah suburban Paris disebut banlieue, kebanyakan orang lebih suka di daerah banlieue karena lebih tenang,tidak berdesak-desakan dan biaya hidup lebih murah. Tempat aku kuliah adalah l’universite Paris 7 Diderot yang fakultas kedokterannya di lokasi Xavier Bichat dekat dengan rumah sakit Bichat Paris, di utara Paris dekat banlieue Clichy , sebelum Saint Denis, stadion utama Paris.

Kuliahku tetap menyedihkan, banyak pertanyaan yang tidak bisa kujawab saat diskusi. Dan teman-temanku bilang ke dosen “elle ne parle pas francais” uh.. sedihnya…. Rasanya pingin nangis 😦 . Bayangan tidak lulus program S2 (DEA: Diplome Etude d’approfondie) semakin nyata muncul di kepalaku. Program DEA adalah program S2 yang dipadatkan menjadi 1 tahun bagi mahasiswa yang memang mempunyai minat meneruskan ke S3. Katanya banyak teman-teman dari Indonesia yang gagal dalam program ini, ada yang mengulang ada yang pilih pindah ke negara yang berbahasa Inggris. Kuliahku kali ini banyak tentang immunology dan merupakan spesialisasi fakultas kedokteran di Paris ini. Beberapa pendekatan dengan menggunakan ilmu ini diterapkan langsung pada pasien di rumah sakit Bichat Paris untuk melawan penyakit antara lain  leukemia.

Aku tinggal di Cite Universitaire di Paris. Setiap kali aku belajar malam-malam, diluar sangat sepi, hanya suara angin menjatuhkan daun-daunan dan deru mobil di jalan peripherique Paris yang aku dengar masih ada waktu tengah malam. Peripherique adalah jalan tol yang melingkari kota Paris (semacam Jakarta Outer Ring Road (JORR)). Jadi aku persis di perbatasan Paris dan banlieuenya. Sungguh sedih setiap malam mempelajari pelajaran-pelajaran yang sangat sulit aku mengerti. Tidak ada kesempatan menikmati kota Paris yang kata orang sangat indah dan romantis ini. Begitu kuliah selesai aku harus kembali ke Marseille cepat-cepat, karena setelah 3 bulan kuliah modul-modul, sudah saatnya ujian akhir……… ohhhhhhhhh toloooooongggggggggg

“elle ne parle pas francais” : dia tidak bisa bahasa Perancis


Advertisements

About anaroeni

someone that has a lot of thing in her head and need to express her ideas to be shared with other people
This entry was posted in Le depart ..... keberangkatan. Bookmark the permalink.

4 Responses to Le depart part 10 : Terpurukku di Paris

  1. erywijaya says:

    TGV itu klo di Jepang mungkin setara dengan Shinkanshen, cuman di sini Shinkanshen memang punya rel sendiri, jadi gak campur sama rel kereta biasa.

    Menunggu sambungan ceritanya lagi hehehe

    • anaroeni says:

      iya, Saya baca dan dengar Jerman, Perancis dan jepang sedang berlomba mengembangkan teknologi kereta cepat, sayangnya di Jerman banyak kecelakaan yang terjadi, tinggal antara Perancis dan Jepang ? 😀

  2. Helen says:

    Dear mbak arum,
    Salam kenal…nama saya helen. Mbak, sy sangat senang banget membaca cerita mbak di blog..sambil membayangkan perjuangan mbak yg mati2 an kuliah..sampe mau keluar air mata sy mbak.hehehe bisa dibayangkan bgmn beratnya kerja keras mbak disana..
    Mbak, sy ingin berteman dgn mbak…kayaknya setelah membaca cerita mbak tinggal di prancis, sy smakin semangat utk tinggal disana nantinya. Begini mbak, thn depan suami ingin kuliah s2 hukum di university touluse, dan rencananya saya, suami dan 2 anak akan ikut kesana….mbak, kalo saya dan suami ingin kursus bhs prancis disana (suami mulai kuliah bulan sept 2013), dimana kami bisa kursus di tempat yg murah? Katanya ditrmpat kursus yg disediakan government gratis ya? Soalnya biar irit biaya mbak, mengingat takutnya nanti pengeluaran akan banyak sekali krn ada anak2. kira2 berapa lama pd umumnya kita bisa berbahasa prancis smpe lancar? Tempat kursusnya bisa dicari di jkt atau sesudah tiba disana ya…
    Terus utk cari kerja utk pendatang bgmn caranya mbak….kl utk kayak saya yg pny anak, anak bisa dimasukkan ke tk pemerintah ya mbak….dulu saya pernah kerja jd sekretaris di sebuah lawfirm, kira2 mungkin nggak ya mbak saya kerja di office….
    Mbak arum, maaf ya banyaaaakk nanya nih hehehe mbak cerita panjang lebar lagi dong ttg living in france….
    Saya tunggu balasannya ya mbak…makasih…jbu…

    • anaroeni says:

      Senang juga blog saya bisa berguna bagi orang lain. Wahhhhh nanti kalau disana cerita2 ya…. lumayan bisa nostalgia. email saya :anaroeni@yahoo.fr atau FB : aroem naroeni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s