TBC (Tuberculosis)


Apakah anda sering melihat orang meludah sembarangan ? Pastinya sering… Di jalan-jalan.. Di kendaraan umum bahkan ada mobil pribadi yang sengaja membuka jendela untuk meludah.  Tahukah kita  bahwa air ludah bisa menyebarkan penyakit terutama TBC. Penduduk Indonesia yang padat, pertemuan orang-orang di tempat publik menyebabkan penyakit TBC tersebar dengan mudahnya.

TBC atau Tuberculosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.  Bakteri ini menyerang paru-paru. Pada awalnya tidak ada gejala khusus karena  infeksinya bersifat laten.   Infeksi ini kemudian berkembang sehingga timbul batuk-batuk yang berlangsung lama, darah pada dahak, demam, sangat berkeringat di waktu malam, berat badan menurun drastis, cepat capek dan sebagainya.

Foto thorax bisa menggambarkan kondisinya  apabila TBCnya ada di paru-paru. Selain itu, diagnosis dapat juga dengan menggunakan Mantoux tuberculine test, pewarnaan bakteri dengan observasi menggunakan mikroskop, kultur bakteri , test serologi dan yang terakhir yang dikembangkan adalah dengan mengidentifikasi DNA bakteri dengan menggunakan PCR.

Selain bakteri TBC yang tumbuh di paru-paru (Pulmonary TB), juga ada bakteri TBC yang tumbuh di luar paru-paru (EPTB: Extrapulmonary TB) seperti yang tumbuh pada saluran pencernaan yang menimbulkan diare kronik, pada kelenjar limfa, sendi dan tulang, saluran kencing, perut, dinding jantung dan kulit. Biasanya EPTB terjadi pada orang yang sistim pertahanan tubuhnya lemah. Lima puluh persen penderita EPTB adalah orang yang terinfeksi HIV.

Pengobatan TBC dilakukan dengan menggunakan paling sedikit 2 – 4 macam kombinasi antibiotik untuk mencegah terjadinya resistensi bakteri terhadap obat. Banyaknya kombinasi tergantung pada kondisi pasien. Empat macam antibiotik yang digunakan adalah Isoniazid, Rimfapicin, Pyrazinamide dan Ethambutol,yang disebut juga First line drug. Pengobatan dilakukan 6-9 bulan. Putus obat atau ketidakpatuhan pasien meminum obat adalah salah satu penyebab resistensi TBC terhadap obat yang diberikan. Multidrug resistant (MDR) adalah resistensi bakteri TBC terhadap paling sedikit 2 macam obat yaitu rimfapicin dan Isoniazid. Orang yang menderita MDR harus diobati dengan second line drug (ada 6 macam) selama kurang lebih 2 tahun. Resistensi bakteri terhadap 3 atau lebih dari 6 macam obat second line atau disebut Extensively Drug Resistant (XDR) harus diobati dengan third line drug (ada 8 macam). Oleh karena itu kepatuhan pasien untuk meminum obat antibiotik sampai selesai sangat penting agar bakteri tidak menjadi bertambah ganas dan sukar diobati.

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan vaksin BCG, beberapa vaksin baru sedang dikembangkan untuk menyempurnakan vaksin yang ada. Daya tahan tubuh perlu dijaga mengingat bakteri TBC ada dimana-mana karena tertular melalui udara dengan bebas di tempat publik.

Advertisements

About anaroeni

someone that has a lot of thing in her head and need to express her ideas to be shared with other people
This entry was posted in Non- Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s