Le Depart Part II : Bienvenue en France… Selamat Datang di Perancis


Jakarta, Juni 1997

Aku tidak terbiasa dengan kehidupan Jakarta sama sekali. Semua seba cepat-cepat dan semrawut. Untunglah saat itu ada temanku kursus yang sangat baik dan sabar. Aku sadar kalau sifat pemalu dan minderku  banyak mengganggu orang  tetapi untunglah temanku itu sangat baik kepadaku… thanks ya J. Dialah yang mengantarkan aku mengurus segala sesuatu : periksa kesehatan, mencari tiket, berbelanja dan lain-lain. Aku tidak bisa menikmati belajar bahasa Perancis seperti sebelumnya waktu aku kursus di Yogya. Kami cuma diberi waktu dua bulan untuk mempersiapkan diri masuk ke universitas. Bukan hanya kami  yang stress, guru-gurunya pun ikut stress J. Dari pengenalan pertama bahasa Perancis, kami langsung loncat ke buku yang diperuntukkan untuk tingkatan advance. Sifat pemaluku tidak banyak mendukung dalam hal ini karena meskipun dalam grammar dan menulis aku lumayan, dalam berbicara aku nol… L . Itulah yang sering membuat guruku marah-marah. O ya aku punya dua orang guru yang 1 sangat baik hati dan kreatif dalam mengajar dengan menyediakan bahan-bahan pengajaran yang bervariasi misalnya dengan nonton video, memberikan kliping-kliping berita, permainan-permainan dan lain-lain. Dia adalah orang Perancis asli. Yang kedua lebih klasik dan agak galak 🙂  . Setiap hari pekerjaan rumah kami banyakkkk…… sehingga membuat keder kami berdua. Untunglah di akhir kursus kami setelah 2 bulan kursus intensif dari jam 08.00 sampai jam 15.oo kami sudah bisa baca koran dan mengarang…. ajaib :). Akhirnya Direktur tempat kursus kami memutuskan kami sudah bisa mengakhiri kursus kami…. akhirnya………

Karena begitu banyak persiapan yang aku lakukan aku tidak sempat berkunjung ke tempat saudara-saudaraku di Jakarta.Guru bahasaku banyak menyarankan untuk bawa ini dan itu…..  Akhirnya aku pilih koper yang paling besar yang ada di Pasar baru wuiiiihhhh lebih mirip lemari kaleee….Aku pikir lebih baik bawa satu koper besar daripada beberapa tas ….repot. Aku hanya membawa 1 tas ransel milik adikku untuk surat-surat penting, barang-barang berharga dan 1 sweater.

Akhirnya aku harus meninggalkan tanah airku dan orang-orang yan kucintai.  Pergi ke suatu tempat yang sangat jauh dan sama sekali tidak aku kenal membuatku sangat ketakutan dan akhirnya aku cuma bisa berserah pada yang diatas. Beberapa hari yang lalu aku sempat berbincang-bincang dengan temanku satu kursus. Kita sama sekali tidak punya bayangan apakah uang yang akan kita terima itu cukup buat hidup atau tidak. Yang jelas sampai saat ini pergi aku cuma diberi tiket dari kedutaan dan berbekal uang beberapa juta dari orangtuaku. Saat itu belum ada inflasi jadi uang beberapa juta itu masih banyak buatku maksudnya. Yaaa… pikirku saat itu, kalau memang sudah takdirku , aku harus menjalaninya.  Aku mencoba menguatkan diri, aku lambaikan tanganku kea rah orangtuaku di balik kaca ruang keberangkatan bandara Sukarno Hatta. Lalu aku berlalu berjalan bersama teman-temanku yang mendapat beasiswa Bourse excellent de Gouvernement Francais (BGF). Bersama aku ada lima orang 2 dari ITB, 2 dari UI dan aku 1 orang dari  UGM.

Suara pramugari yang mengumumkan kalau pesawat akan segera mendarat membangunkan lamunanku. Semua penumpang dihimbau untuk mengencangkan sabuk pengaman dan meluruskan tempat duduknya. Ini adalah pengalaman pertamaku naik pesawat terbang dan akhirnya bisa aku lalui dengan baik. Ini tidak lepas dari nasehat dari salah orang temanku ITB yang memang bekerja di jurusan aeronotik di ITB. Dia memberikan aku cara-cara untuk bertahan di pesawat karena tekanan udara yang berubah-ubah dan juga karena kadang-kadang pesawat terguncang-guncang karena cuaca buruk. Sekali lagi aku bersyukur menemukan teman-teman yang baik. Aku melihat keluar, bandara Charles de Gaulle adalah suatu bandara yang sangat besar dengan kaca-kaca yang mendominasi, bangunan besar dengan kerangka logam yang berkilau-kilau ditimpa cahaya matahari. Kami tiba disana pada akhir bulan Juni yang sebenarnya adalah awal musim panas. Aku hanya mempersiapkan satu sweater di tasku yang aku pikir Cuma akan diperlukan untuk tidur di pesawat. Ternyata aku keliru, begitu mendarat aku rasakan hawa dingin menerpa tubuhku, aku cepat-cepat mengenakan sweater lalu menelusuri lorong-lorong menuju bandara. Banyak orang sibuk lalu lalang di bandara.  Kami harus menghadapi petugas keimigrasian untuk diperiksa paspor dan visa kami.  Lalu kami berjalan menuju ke tempat pengambilan bagasi . Tempat itu begitu besar dengan bantalan-bantalan besar  yang berjalan keluar dan masuk lagi ke lorong yang lain. Para penumpang  berdiri di samping ban berjalan untuk mencari bagasi mereka. Kalau sudah ketemu mereka mengangkatnya ke kereta dorong yang sudah mereka ambil di sudut ruangan. Ada berderet-deret kereta dorong seperti di supermarket tetapi keretanya lebih besar-besar. Disini tidak ada porter seperti di bandara di Jakarta jadi setiap penumpang harus mandiri mengambil bagasinya sendiri seberapapun besarnya… untungnya disini orangnya tidak cuek-cuek… kalau lihat wanita mengambil barang berat pasti langsung ditolongin… syukurlah :). Semua teman-temanku sudah mendapatkan kopernya kecuali aku dan temanku cewek….Kami tunggu-tunggu tetapi tidak muncul-muncul juga dari lorong itu. Hari sudah beranjak siang, rasa capek dan lapar sudah mulai muncul tetapi kami mencoba untuk bersabar. Akhirnya kamu melaporkan ke tempat pelaporan bagasi…. Koper-koper kami hilang……. 😦

Advertisements

About anaroeni

someone that has a lot of thing in her head and need to express her ideas to be shared with other people
This entry was posted in Le depart ..... keberangkatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s