Cintaku Quo Vadis… (1)


Aku menapakkan kakiku di bandara Charles de Gaulle. Perasaan bahagia, khawatir, lega bercampur dalam diriku. Kupandangi bangunan raksasa yang terbuat dari kaca itu . ” Hallo Paris, aku siap berkenalan dengan dirimu” lalu aku hirup dalam-dalam udara Paris…haahhhh…akhirnya !!. Aku dijemput oleh seseorang yang ditugaskan oleh CNOUS , organisasi yang mengurusi mahasiswa asing yang mendapat beasiswa dari pemerintah Perancis. Setelah berbincang bincang sejenak dengannya aku tahu kalau dia mahasiswa seperti aku. Meskipun aku dari Nepal yang biasanya menguasai bahasa Inggris dengan baik, aku juga menguasai bahasa Perancis karena sudah hampir 2 tahun aku bekerja pada Medecine Sans Frontier, sukarelawan medis yang membantu orang-orang di luar Perancis yang memerlukan bantuan medis. Berbekal itulah aku bisa berbahasa Perancis dengan lumayan lancar. Setelah berbincang-bincang sejenak dengannya aku tahu kalau dia adalah mahasiswa  juga seperti aku. Dia bekerja selama musim panas ini di kantor CNOUS.  ” O…o…o… Vous etes etudiant en Sociologie aussi !  Bienvenue en France ” 1 katanya ramah.

Lalu ia menerangkan jalan-jalan yang kami lewati.  Jalan-jalan di Paris banyak yang berupa batu-batuan disusun rapi ada yang warnanya kecoklatan ada yang hitam seperti batu kali. Jalan-jalan besar baru biasanya diaspal. Mobil-mobil kebanyakan berupa sedan dengan kebanyakan cuma satu orang di dalamnya. Bahkan  kadang-kadang aku melihat ada  mobil yang bentuknya seperti mobil sedan dibelah dengan hanya mempunyai 2 kursi. Pohon-pohon di pinggir jalan tidak banyak, aku melihat ada banyak pohon daunnya seperti pohon maple, mahasiswa yang menjemputku itu bilang itu pohon marron, buahnya bulat-bulat sebesar bola pingpong, biasanya pada musim dingin dibakar dan dijual di pinggir jalan. Aku beruntung, mobilnya melewati jalan-jalan utama di Paris. Mulai dari Champ Elysees , jalan ini adalah jalan utama Paris, di kanan kiri terdapat toko-toko yang menjual barang-barang mewah. Lebih tepatnya banyak butik-butik yang menjual baju-baju haute couture buatan designer-designer terkenal. Banyak juga cafe-cafe, restaurant-restaurant,  dari cara berpakain orang-orang , mereka kebanyakan adalah kaum eksekutif dan turis-turis. Paling-paling kalau mahasiswa seperti aku cuma bisa window shopping atau makan makanan fastfood dari gerobak-gerobak. Eh tapi gerobak-gerobak itu bentuknya berseni lho. Ada gambar pizza diatasnya, burger atau ice cream, biasanya penjualnya ada di dalam gerobak disekelilingnya diletakkan beberapa kursi tinggi seperti di bar. Kalau mereka mempunyai sedikit tempat lagi mereka taruh kursi dengan payung-payung untuk melindungi dari sinar matahari. Di ujung jalan besar ini ada bangunan seperti gapura besar yang dinamakan “L’arc du triomphe” yang merupakan lambang kemenangan Perancis pada zaman Napoleone Bonaparte. Di tempat inilah biasanya dirayakan hari kemerdekaan Perancis setiap tanggal 14 Juli dengan berbagai macam pertunjukkan kembang api di udara.  Beberapa saat berputar-putar melewati Obelisk, Assemble Nationale……kemudian di kejauhan aku melihat bangunan tinggi dari logam tertimpa sinar matahari “La tour Eiffel ” atau menara eiffel. Bangunan karya Gustave Eiffel ini masih tampak anggun ..kulihat banyak turis-turis yang menyemut menuju kesana. Tempat aku berada merupakan ketinggian di dan dekat situ terdapat subway atau kalau di Perancis disebut “Metro” stasiun metro aku baca bernama “Trocadero”. Diam-diam aku catat , nanti kalau ada waktu aku ingin kesini sendiri naik metro. Tempat ini bagus untuk mengambil foto Menara Eiffel karena bisa mengambil foto menara secara utuh. Banyak pedagang-pedagang asongan menawarkan barang dagangannya. Ternyata dimana-mana sama saja ya :). Ada gula ada semut. Ada turis ada pedagang asongan yang menawarkan berbagai souvenir…. :).
Ternyata doaku tidak terkabul. Setelah sampai di kantor CNOUS, madame yang disana langsung memberi aku tiket kereta untuk berangkat ke Grenoble keesokan paginya. ” Mademoiselle Sushmita, voici votre billet pour Grenoble demain matin, apres ca CROUS de Grenoble qui va s’occuper de vous “. Pagi-pagi aku berangkat ke Grenoble dengan kereta TGV (Train Grand Vitesse) kereta cepat Perancis yang kecepatannya bisa 300 km/jam. Anehnya naik kereta ini tidak merasakannya getaran hebat , semua mulus, cuma pemandangan di luar aja yang bergerak cepat. Kemajuan teknologi memang luar biasa. !!!

Akhirnya…. sampailah aku di Grenoble, udara disini lebih dingin karena letaknya di pegunungan dimana ada stasiun ski yang terkenal itu.  Aku ditempatkan di cite universitaire yaitu bangunan seperti asrama untuk mahasiswa yang berupa kamar-kamar yang berukuran kurang lebih 3×4 meter dilengkapi dengan lemari besar, wastafel, tempat tidur lengkap dengan matrass, bantal dan guling. Kamar mandi ada di luar, di setiap lantai 3 kamar mandi  dan 3 WC  untuk 14 orang di lantai itu.  Di setiap lantai juga disediakan dapur dengan 2 plaque a four3 dan 1 pemanas air, sudah cukup lumayan.
Tak terasa sudah seminggu aku menjalani kehidupan baruku di Perancis. Aku udah berjanji dengan tekat bulat mulai menyusun kehidupan baru, melupakan semua kenangan di Nepal. Kenangan tentang Khaled, dokter yang bekerja di Medecine Sans Frontier. Ya…..sekian lama kita bekerja sama akhirnya cinta bersemi diantara kami, tumbuh berkembang semakin subur tak terhalang oleh apapun bahkan oleh fakta kalau dia sudah menikah dengan dua orang anak dan kami berbeda agama. Khaled muslim dan aku Budha. Cinta kami tulus antara dua orang anak manusia. Khaled menikah dengan perjodohan antara dua keluarga. Dia cuma menuruti keinginan keluarganya. Dan  dia menemukan cintanya dengan aku!  Keluargaku sangat menentang hubungan kami dan pada puncaknya datang surat dari istri khaled ke orangtuaku menceritakan skandal kami. Sampai akhirnya ayahku memberi ultimatum ” kalau kamu tidak mau menghentikan hubungan dengan Khaled, lebih baik kamu pergi jauh-jauh dari rumah ini!” Dan begitulah akhirnya aku sampai di tempat ini berusaha memulai kehidupan baruku….meneruskan sekolah di Perancis. Kuliah pertamaku menyenangkan, bertemu dengan teman-teman baru, kebanyakan orang Perancis tapi orang Perancis juga terdiri dari bermacam-macam ras ada yang berkulit putih berambut pirang, hitam ,merah, bermata coklat atau hijau atau biru, ada yang keturunan mahgreb, atau orang asli Perancis yang sudah hidup lama di mahgreb yang disebut pied noire, yang karena negara-negara mahgreb merdeka maka mereka kembali ke Perancis kemudian ada juga orang Perancis yang berasal dari Department d’outre mer atau provinsi yang diluar daerah hexagonal Perancis di Eropa , seperti daerah polynesia, Guyana,Reunion dan lain-lain, wajah mereka mirip wajah orang asia , selain itu jua ada  orang Perancis yang keturunan Afrika karena Perancis mempunyai banyak negara bekas jajahan di sana. Ya…jadinya aku melihat berbagai wajah dengan berbagai tingkah laku di tempat aku kuliah. Saat-saat week end aku menikmati pesta-pesta a la mahasiswa di cite universitaire. Biasanya di halaman cite, masing-masing membawa makanan, minuman, snack dan piring-piring kertas dan sendok plastik.. Pizza adalah makanan favorite biasanya yang banyak dengan biji olive atau anchois semacam ikan asin kecil-kecil gitulah. Salah satu dari kami membawa tape lengkap dengan CD tapi biasanya kami bawa CD masing-masing karena ada musik afrika, musik arab, spanyol atau musik-musik biasa yang dapat digunakan untuk nge dance…bareng-bareng…murah meriah !! Kadang-kadang kami pergi ke centre ville atau pusat kota untuk menikmati pub atau tempat hiburan lain disana tapi itu jarang-jarang maklum mahasiswa uangnya terbatas..  :). Hobi kami yang lain adalah menonton film. Mahasiswa mendapat discount 50% di bioskop dan pertunjukkan-pertunjukkan lain seperti teater, tari dan lain-lain. Pemerintah Perancis memang sangat mendukung perkembangan kebudayaan di segala bidang.

Bersambung ya….

  1. ” O…o…o… Vous etes etudiant en Sociologie aussi !  Bienvenue en France ” : O o anda mahasiswa sosiologi juga! Selamat datang di Perancis
  2. ” Mademoiselle Sushmita, voici votre billet pour Grenoble demain matin, apres ca CROUS de Grenoble qui va s’occuper de vous ” : Nona Sushmita ini tiket kereta api anda untuk Grenoble besok pagi, setelah itu CROUS yang di Grenoble akan mengurus keperluan anda disana
  3. plaque a four : Kompor listrik yang terbuat dari logam.
Advertisements

About anaroeni

someone that has a lot of thing in her head and need to express her ideas to be shared with other people
This entry was posted in Fiction. Bookmark the permalink.

2 Responses to Cintaku Quo Vadis… (1)

  1. Lidia says:

    loh Roem..takpikir iki critomu dewe..jebule critone wong liyo tah? tp km yg nulis..hehe…
    lha nek perjalanan cintamu endi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s