Sangatte


Aku terbangun oleh bunyi desingan peluru kemudian disusul oleh teriakan-teriakan, hardikan-hardikan. Hari masih subuh, udara sangat dingin karena kami di pertengahan musim dingin. Beberapa menit setelah itu pintu utama tempat penampungan terbuka dengan kasar dan beberapa orang dilemparkan masuk. Udara luar yang memasuki ruangan kami yang cuma mempunyai alat pemanas seadanya membuat aku lebih kedinginan. Aku menengok sesaat kearah sekelompok orang yang dilemparkan oleh polisi ke barak penampungan  kami. Aku dengar mereka mengumpat dan mengomel dalam bahasa Arab.  Aku kira sekelompok orang Irak lagi yang berusaha menerobos perbatasan. Aku rapatkan selimutku dan kembali tidur.

Keesokan paginya setelah  mencuci muka dan gosok gigi , aku ikut antre untuk mendapatkan sarapan pagi yang disediakan oleh Palang Merah Internasional. Sudah sebulan aku disini, di tempat penampungan Palang Merah Internasional di Sangatte, Perancis. Mungkin ada hampir seratusan orang disini yang berasal dari berbagai bangsa : Irak, Iran, Aljazair, Tunisia,Pakistan, beberapa orang Armenia, Rusia, Cina dll.

“Assalam mualaikum Momo ? ca va ? 1 temanku Hussein, Orang Tunisia itu datang menghampiriku. Namaku Mohamed, tapi seperti kebanyakan orang yang berasal dari mahgreb, mereka sering memanggilku Momo. Sebenarnya aku tidak suka dengan nama panggilan itu.

“ Dingin sekali pagi ini! Berapa derajat ? ada -10 derajat ?”

“Mungkin” jawabku sambil terus maju mengikuti antrean. Setelah mendapatkan sepotong French bread, secuil mentega dan kopi kami, kami menuju ke beberapa meja di sudut barak bergabung dengan yang lainnya. Kami mengobrol tentang kejadian subuh tadi.  Ada beberapa orang Irak yang mencoba kembali menyeberang ke perbatasan. Kami yang di barak ini memang imigran-imigran yang berusaha menyeberang ke Inggris. Menurut kabar yang kami dengar, di Inggris kami bias mendapatkan pekerjaan tanpa harus ditanyai ID card seperti di Negara Eropa barat lainnya. Meskipun sudah lama sebagai imigran gelap disini, susah untuk mendapatkan pekerjaan kecuali pekerjaan berat , dimana kami terus diperas oleh majikan untuk berkerja siang dan malam dengan upah yang sangat minim. Kami harus menerimanya karena tidak ada pilihan lain karena jarang orang mau memperkerjakan orang seperti kami ini. Umumnya yang ada disini adalah orang-orang yang berusaha menyeberang ke Inggris secara gelap tetapi tertangkap polisi-polisi Perancis. Mereka mempunyai latar belakang yang beragam seperti orang Irak, mereka sudah lama banyak pergi dari tempat asalnya sejak perang teluk, kemudian  ada juga yang melarikan diri akibat tekanan kekuasaan Sadam Hussein atau karena kesulitan ekonomi akibat embargo dari dunia Internasional. Orang Armenia pergi kemana saja karena sudah tidak mempunyai tanah air. Orang-orang Cina selalu ada dimana saja untuk mencari tempat hidup yang lebih baik. Mereka pada umumnya adalah pekerja-pekerja keras yang tekun dan gigih. Aku dengar beberapa waktu yang lalu polisi Inggris menemukan beberapa orang Cina di dalam kontainer dalam keadaan meninggal semua. Banyak cara ditempuh orang untuk sampai ke negeri impian. Aku juga pernah dengar orang-orang yang berasal dari mahgreb selain mereka, menyusup ke truk barang. Mereka berdiam di ruang sempit antara roda dan dan bak truk…. mengerikan…. Harus orang yang kecil dan kurus bisa menyusup ke ruangan sesempit itu. Mereka bernafas lewat lubang kecil di bagian depan, tidak makan dan tidak minum beberapa hari sampai mereka melewati perbatasan selat Gibraltar dan penjaga perbatasan Spanyol. Setelah itu… bebas !!!. karena di Negara-negara yang menandatangani perjanjian Schengen tidak perlu lagi ada pemeriksaan imigrasi di perbatasan kecuali seperti kami ini yang mau melewati perbatasan Inggris  dan akhirnya tertangkap oleh Imigrasi dan polisi Perancis. Karena mereka tidak bisa mengembalikan kami ke Negara asal, akhirnya kami ditampung oleh Palang Merah Internasional di Sanggate ini. Sanggate adalah sebuah kota di dekat selat Manche, selat antara Inggris dan Perancis. Selain sebagai pelabuhan  penyeberangan  ke Inggris, disini juga  terdapat ujung terowongan bawah laut sebagai jalan kereta api. Diantara kami banyak yang berusaha untuk menyeberang beberapa kali. Ada yang mencoba menyusuri terowongan kereta api bawah lautnya Eurostar 2, atau menumpang di gerbong barang atau di kapal-kapal barang di pelabuhan.  Sampai saat ini yang aku ketahui, belum ada yang berhasil menyeberang. Menurut cerita orang orang yang sudah lama disana , beberapa waktu yang lalu ada 1 orang pemuda yang mati tertembak, karena tidak mengindahkan  peringatan polisi waktu melompati pagar jeruji mau masuk ke jalur kereta api.

Setelah sarapan, aku bersama Hussein dan Farid menyempatkan diri jalan-jalan kekota meskipun udara masih sangat dingin tetapi masih ada secercah cahaya matahari yang mulai muncul. Setelah jalan beberapa saat, kami sampai di perumahan orang-orang Perancis yang berderet-deret rapi. Ada tanaman bunga musim dingin yang berwarna-warni, beberapa pohon buah-buahan yang tinggal ranting-rantingya  karena musim dingin, mobil mereka yang bagus-bagus terparkir diluar. Di setiap rumah selalu ada garasi tetapi tidak muat untuk menampung  mobil-mobil mereka yang sampai-sampai ditaruh diluar rumah.   Tidak banyak orang yang nampak diluar rumah. Tetapi kadang-kadang aku melihat ada orang yang mengawasi kami dari jendela. Memang banyak penduduk asli  yang mencurigai kami para imigran meskipun kami menyapa mereka baik-baik tetapi mereka selalu memandangi kami dengan wajah curiga. Sebegitu kami sampai di ujung jalan yang berakhir di square  kota dimana disitu terdapat deretan toko, restoran dan kafe, terdengar suara ribut-ribut. Hussein menghentikan kami.

“ Tunggu sebentar! Kalian dengar itu ? kami berdua menganggukkan kepala sambil menelengkan telinga untuk mendengar baik-baik. Dari kejauhan kami melihat beberapa orang dikeluarkan dari kafe. Ada orang Perancis di depan pintu tampak kelihatan sangat marah.

“Awas kalau kalian berani kembali kesini lagi ! Aku akan panggilkan polisi !” Gerombolan orang-orang itu tampak menjauh.  Dari kejauhan kami yakin itu adalah orang-orang imigran dari tempat kami.  Kami berhenti sesaaat, Hussein kemudian bicara

“ Sebaiknya  kita kembali saja dari daripada ikut tersangkut masalah atau malahan jangan-jangan kita dijadikan pelampisan mereka”.

Sebetulnya  kami mempunyai rencana  untuk duduk-duduk di kafe untuk mengobrol karena disana  lebih hangat dibandingkan barak kami tetapi karena kelihatannya ada beberapa orang yang membuat masalah di tempat itu, kami jadi berfikir kembali. Memang ada diantara kami yang kadang-kadang mencuri rokok atau minum  tidak bayar bahkan ada yang berusaha memeras orang disana. Meskipun kami bertiga jauh dari perbuatan itu tetapi orang sudah terlanjur menilai semua orang yang tinggal di barak itu sama.

Akhirnya kami berjalan memutar dan mengambil jalan pulang kembali. Di jalan tidak henti-hentinya kami berkeluh kesah tentang hal itu. Begitu sulitnya kehidupan yang kami rasakan, orang-orang melihat kami  dengan pandangan hina. Padahal apa salah kami ? Kami hanya berusaha tetap hidup ! itu saja !. Kami bukan orang pemalas yang tidak mau bekerja. Kami bersedia bekerja apa asal kami tetap hidup. Sebenarnya disini banyak pekerjaan  karena orang-orang Perancis tidak suka pekerjaan-pekerjaan kasar. Kami orang-orang Mahgreb yang melakukannya. Masalahnya adalah kami tidak mempunyai ID card dan orang Perancis tidak mau memberikannya. Aku dan teman-temanku terpaksa meninggalkan Negara kami karena disana kami tidak bisa hidup. Aku menyelundup di kapal barang untuk sampai disini. Tiba-tiba pikiranku menerawang jauh ke tempat asalku, di seberang lautan Mediterania. Teringat masa-masa pelarianku untuk menghindari  pembantaian GIA. Masih segar dalam ingatanku darah segar yang memenuhi rumahku. Bapak, ibu dan keempat adikku kutemukan tidak bernyawa di rumah dengan kondisi yang mengerikan. Mereka entah dibantai oleh berapa orang tetapi kelihatan ditikam berkali-kali dengan senjata tajam sampai adikku yang masih berumur sepuluh tahunpun mendapat perlakuan yang sama. Mereka benar-benar biadab.  Mataku terasa panas tetapi aku berusaha menahan airmataku aku tidak mau kedua temanku melihat aku menangis. Setelah peristiwa itu, yang aku tahu adalah aku harus lari sejauh mungkin dari tempat itu. Akhirnya aku bisa menyusup ke kapal barang sampai di Marseille. Sebelumnya aku sudah sering mendengar tentang pembantaian-pembantaian dan juga kekerasan-kekerasan yang dilakukan oleh GIA dimana-mana. Tetapi kalau itu menimpa keluargaku sendiri aku sama sekali tidak pernah membayangkannya. Kami hanya keluarga petani kecil yang tinggal di desa. Bapakku berjuang untuk menghidupi kami. Setelah aku lulus SMA, aku berusaha mencari pekerjaan kecil-kecilan ke kota terdekat. Kakakku 1 orang laki-laki bekerja sebagai kuli di pelabuhan. Dialah yang membantuku menyusup ke kapal barang. Entah kapan aku bisa bertemu dengan saudaraku yang tinggal satu-satunya itu. Aku sudah banyak mendengar tentang banyak orang yang berhasil sebagai imigran di Eropa, mempunyai rumah besar, mobil, menikah seperti orang layaknya hidup…. Sedangkan di negaraku apa yang kami bisa dapatkan ? Mencari pekerjaan sulit belum lagi situasi perang, banyak bentrokan-bentrokan dimana-mana.

Kami sampai di daerah penampungan, tempat ini terletak agak terpencil dari perumahan penduduk. Aku lihat beberapa orang dari Palang Merah Internasional sedang mengeluarkan beberapa barang-barang untuk mempersiapkan makan siang.

Kami duduk merapat dekat alat pemanas, kami tidak sendirian, banyak orang yang sudah mempunyai ide seperti itu karena dinginnya udara. Aku membayangkan musim panas di tepi laut Mediterania…. Alangkah bedanya.

“ Mo, tumben kamu tidak membantu mempersiapkan makan siang ? Farid menyeletuk sambil memandangi orang-orang yang hilir mudik mempersiapkan makan siang.

“ Biar saja… sudah banyak orang yang  membantu “ kataku sambil terus merapatkan badan  ke alat pemanas. Memang seringkali kami orang Mahgreb yang membantu mereka karena kami menguasai bahasa Perancis sehingga mudah berkomunikasi dengan mereka atau sekedar mengobrol untuk mengetahui masa depan kami.  Jam menunjukkan pukul 13.00, matahari sudah menghilang tertutup awan kelabu. Kami dipanggil untuk makan siang. Seperti hanya itu yang kami tunggu sehingga orang-orang berhamburan ke tempat antre. Makanan yang kami dapatkan seperti biasa: kentang rebus, biji-biji kacang polong atau petits pois 3, wortel , sepotong daging dan sepotong French bread yang sudah dingin.  Betapa inginnya aku makan couscous 4 buatan ibu , penuh dengan rempah, sayur dan daging kambing. Aku makan di dekat televisi, aku jarang menonton televisi tetapi  karenahari ini terlalu banyak orang yang makan sehingga tidak nyaman akhirnya aku memilih tempat ini. Di TV, kami melihat tokoh ekstrem kanan yang diwawancarai. Aku dan Hussein langsung ber huuuuuuuuuuu. Orang gemuk itu dengan gayanya berkata :

“ Langkah yang tepat untuk mengatasi masalah adalah mengembalikan semua imigran ke negeri asalnya dengan memberikan kompensasi bantuan dana ke negara-negara tersebut !”

“ Anda saja yang malu mengakui bahwa mereka-mereka adalah pelaku criminal yang mengacaukan negara kita,  kenapa kita harus memelihara mereka dan bahkan memberikan tunjangan keluarga mereka yang banyak sekali itu !”

Dia adalah tokoh exophobia dan penganut pemurnian ras di negara ini. Apakah mereka merasa terancam dengan kehadiran kami ? Akupun mengakui bahwa banyak orang mahgreb di negeri ini yang membikin ulah tetapi mereka sebagian besar adalah orang-orang atau anak orang-orang yang dulu berpihak ke Perancis waktu perang dengan Aljazair. Ketika Aljazair merdeka, mereka mengungsi ke negeri ini.  Aku pikir sudah sewajarnyalah, mereka harus memelihara orang-orang yang mempertaruhkan nyawanya untuk La France5. Untunglah tidak semua orang di negara ini membenci kaum imigran, masih ada beberapa orang di negara ini yang peduli terhadap kami seperti orang-orang di Palang Merah Internasional itu.  Tetapi dengan seringnya tokoh ekstrem itu muncul berpidato  dimana-mana menyebabkan banyak orang yang menjadi antipati dengan kami akhir-akhir ini. Mereka melihat kami seperti onggokan sampah yang menjijikkan dan harus secepat mungkin dibuang kemana saja asal sudah tidak ada lagi  di tempat mereka.

Habis makan siang, aku dengan kedua temanku dan beberapa orang Cina berjalan ke arah pantai. Pada awalnya memang sulit berkomunikasi dengan mereka tetapi dengan bahasa monyet dan sepatah, dua patah kata dalam bahasa Inggris kami sudah saling mengerti satu sama lain. “ We can sit here for awhile” kataku ke orang-orang Cina tersebut sambil menunjuk-nunjuj ke arah tembok pagar pembatas pantai. Mereka kelihatan mengerti dan mengangguk-anggukan kepala.

“ OK” kata salah satu dari mereka lirih. Kami lalu duduk berjejer-jejer di tembok beton. Seperti tersihir kami semua memandang ke arah lautan. Tampak matahari kemerah-merahan mulai tenggelam ke arah pulau impian kami….. Inggris……. Kami semua diam, aku bisa menebak apa yang ada di pikiran mereka masing-masing…. Bagaimana mencapai pulau impian di seberang laut sana !!

1  baik baik saja ?

2 Perusahaan kereta api yang melayani jalur lintas Perancis-Inggris melalui terowongan bawah laut.

3 Biji Kapri

4 Masakan khas  daerah mahgreb berupa  gandum yang telah dibuat  menjadi butiran-butiran kecil seperti nasi dicampur dengan sayur dan daging kambing berkuah pedas.

5. Negara Perancis

Advertisements

About anaroeni

someone that has a lot of thing in her head and need to express her ideas to be shared with other people
This entry was posted in Fiction. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s