Hok or Cok ??!!

Memang diakui aku ngga terlalu percaya diri dengan bahasa Inggrisku. Lima tahun aku harus belajar dan berkonsentrasi dengan bahasa Perancis dan selama lima tahun cuma bicara dan mendengar bahasa itu membuat semua reflex dalam bahasa Perancis :D . Tiga bulan aku mengambil summer course di UK supaya ingatan bahasa Inggrisku muncul lagi. Setelah itu kembali ke Indonesia, bahasa Indonesiaku ditertawakan teman-teman karena pakai bahasa Indonesia jadul. Di Jakarta aku belajar bahasa gaul…. Di kantor aku pakai bahasa Inggris kadang-kadang dengan orang Jepang, orang Amerika, orang Australia orang Eropa. Dengan orang Jepang masih percaya diri, dengan orang Amerika harus full konsentrasi, dengan orang Eropa dan Australia Okelahhhh.
Di Singapura, aku cukup yakin tidak aka nada masalah. Oke … di lab kalau diskusi sangat amat cepat kadang-kadang lepasss!!. Tapi untuk urusan-urusan resmi tidak masalah. Singlish ada yang dalam hal tertentu mirip dengan bahasa Indonesia seperti kalimat yang diulang-ulang :
“can… can”, it’s so can atau “walk-walk” atau bahasa Melayu yang udah diadopsi ke Singlish seperti “alamak !“ atau “kacau”. Dan tentu saja laaah di belakang : “ can laaahhh” :D . Jadi bisa dibilang 90% aku percaya diri!!
Tapi saat aku beli siomay hampir putus asa , bertanya ke diri sendiri “tidak mungkin aku tidak mengerti bahasa yang digunakan penjual siomay ini! Tidak akan dia pakai kata yang terlalu sulit!! Impossible !! tapi kenapa aku tidak mengerti juga!!”. Ibu itu mengulang-ulang “hok or cok” sambil menuding-nuding siomay di dalam oven.
Ahhhhhhhhhhhhh…. Setelah beberapa menit kemudian aku baru ngeh : “ohhhh hot or cold you mean!!”
“Yah…yah… “ibu itu mengangguk angguk. “Sorry haaa” . kata ibu itu sambil membungkukkan badan.
Waktu kasih kembalian masih terus bilang “Sorry haaa”.
Oooo “That’s okay , no problem”
Benar memang “that’s so not possible !!” :D

Posted in Jurnal | 1 Comment

Berbeda persepsi individualis atau memang sudah menjadi individualis?

Singapore, 3 Oktober 2011

Kalau orang Indonesia hidup di Eropa pasti keluhannya rata-rata sama : “semua orang disini serba individualis tidak seperti di Indonesia masih ada nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan satu dengan yang lain”.
Tapi alangkah kagetnya waktu ada orang Perancis bilang : “ Aku sempat shock waktu pertama-tama tinggal di Singapura, disini orang-orangnya individualis!”.
“Banyak contohnya: waktu di kolam renang, orang-orang diam saja waktu ada orang mau tenggelam, atau di bis orang-orang diam waktu ada tas ransel seseorang terbuka…. dan masih banyak sekali !!“
“Aku yang orang kulit putih ini yang harus menolong dan bilang ke orang itu !”.
“ Di Perancis kita selalu bilang Bonjour ke sopir bis.. disini aku bilang”good morning” dia diam saja!.
“Terus tetangga satu dengan yang lain ngga pernah menyapa selama di koridor atau di lift”.
” Waktu aku bilang Good morning mereka menatapku dengan keheranan”.
Hmmm memang sich kebanyakan orang Eropa atau bahkan Amerika kali ya.. kalau ketemu di lift pasti menyapa.
“Dan nggak mungkin sekali kita mengetuk appartemen tetangga untuk minta bawang bombay atau garam atau apa saja kalau kita sedang memasak dan kehabisan”.
Memang waktu aku di Perancis dulu hal-hal seperti itu bisa terjadi. Sepertinya teman aku ini lagi punya kesempatan untuk curhat habis-habisan dengan orang yang mengerti bahasanya :D .
“Bahkan, pernah terjadi, waktu melihat air tampungan pot bunganya penuh dengan air bukannya menegur tetangganya eh malah melaporkan ke polisi kalau air itu bisa jadi sarang nyamuk”. “And the neighbour got fine”.
“Haaaahhhhhh??!!”
Aku jadi shock juga :D . Di Singapura untuk mencegah demam berdarah semua tempat termasuk pot-pot bunga mendapat pengawasan ketat dan diancam kena denda yang cukup lumayan apabila ada tempat atau tanaman kita yang menjadi sarang nyamuk.
“Berbeda waktu aku di Indonesia atau Malaysia, seperti rasanya orang-orang yang kita temui dimana saja ingin menyapa kita dan kenalan sama kita”.
Hmmmm…. Dalam hati bilang syukurlah ! :D . Lalu dia bercerita tentang pengalamannya naik ojek keliling Jakarta. Benar-benar nekat nich bule… aku aja belum pernah!! :D

Kalau aku melihatnya, orang Singapura itu cenderung serius dan pekerja keras mungkin ngga ada waktu buat basa basi kali ya…..

| Leave a comment

Social Intelligence…. Sebuah kecerdasan yang lain

Jakarta , 2 September

Seringkali saya melihat banyak dosen atau teman atau seorang peneliti yang pintar dan genius tetapi sulit untuk mentransfer ilmu, sulit untuk mengemukakan ide-idenya bahkan sulit menjual dirinya untuk meyakinkan orang untuk melakukan hal yang lebih besar. Akhirnya mereka mengurung dalam ruang lingkupnya sendiri tanpa bisa melakukan sesuatu yang lebih untuk masyarakat banyak. Kalau melihat gambaran saya saat kuliah mungkin juga seperti itu. Dulu, dengan mengurung diri, saya sanggup memecahkan semua soal-soal sulit tanpa bisa menerangkannya kepada orang lain. Dengan beriringnya waktu saya memahami kalau IQ itu tidak sepenuhnya berguna. Pernahkah anda menjumpai orang atau teman yang kalau ngomong selalu tidak nyambung ? Menjadi aneh atau bahan tertawaan di suatu komunitas. Ya.. karakter sangat mempengaruhi, tapi saya lihat ada sesuatu yang membuat mereka tidak bisa melebur sepenuhnya ke dalam suatu komunitas.
Setelah saya membaca bukunya Daniel Goleman : “Social Intelligence dan bukunya Gerard Nierenberg dan Henry Carera : How to read person like book” saya menyadari bahwa ada kecerdasan yang lain yang diperlukan untuk dapat “to be smart”. Daniel Goleman menyebutnya dengan Social Intelligence yang didefinisikan dengan : Kesadaran social (social Awarness)-apa yang kita rasakan tentang orang lain dan fasilitas social (Social facility). Kesadaran social adalah suatu
- empati dasar (primal empathy) : ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain, merasakan sinyal emosi nonverbal dari orang lain.
- Attunement : mendengarkan dengan seksama
- Ketepatan empati (Empathic accuracy): memahami pikiran, perasaan dan keinginan seseorang
- Kognisi social (Social cognition) : memahami bagaimana dunia social bekerja.
Sedangkan fasilitas social (Social facility) :
- Sinkronisasi : Berinteraksi secara halus pada level nonverbal
- Mengambil peran (self-presentation) : mengambil peran kita secara efektif
- Pengaruh (influence) : Membentuk luaran dari suatu interaksi social
- Concern : perhatian dengan keperluan orang lain dan berbuat sesuai dengan porsinya

Itu mungkin jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan saya yang timbul. Kenapa beberapa teman saya meskipun pandai dalam computer, bahasa , sains, analisis, tetapi tidak kelihatan cerdas di kehidupan sosialnya bahkan cenderung jadi bahan tertawaan. Beberapa kali saya mencoba mempraktekkan bagaimana membaca bahasa nonverbal. Setiap kali rekan kerja saya tanya “kok kamu tahu maksud bos sebelum dia menyelesaikan kata-katanya ?” Atau rekan bos saya tanya “Emang kamu tahu maksud dia?” Begitu saya terangkan apa maksud bos saya, bos saya bilang “Tuch khan dia bisa mengerti tanpa saya harus terangkan panjang lebar “ . Begitu juga dalam menghadapi anak buah yang tidak selalu setuju atau bahkan protes tetapi tidak berani mengatakannya. Kita bisa melihat dari pandangan matanya, nada bicaranya dan gerak tubuhnya. Saya suka melihat hal-hal seperti ini kemudian mencari jalan alternatifnya daripada mereka diam-diam membangkang di belakang kita ? . Social intelligence juga bermanfaat dalam menghadapi orang yang suka menjilat, ,memanipulasi dan memanfaatkan kita untuk kepentingan mereka sendiri. Jadi Social intelligence akan sangat berguna dalam hal yang lebih besar yaitu “Leadership”
Saya sebagai orang Jawa mungkin mempunyai kelebihan dalam hal ini karena orang Jawa bahasanya tidak lugas dan seperti apa adanya. Ohhhh kalau anda memperhatikan dalam kata-kata yang halus banyak tersimpan makna yang kadang mengagetkan. Jadi jangan terbuai kata-kata lemah lembut dan halus karena kadang itu lebih tajam dari pisau belati atau silet. Kadang bahasa seperti ini sangat berguna dalam negosiasi tetapi ingat anda harus mempunyai Social Intelligence!.
Saya masih ingin menggali lagi tentang hal ini, tetapi saya senang bisa mengungkapkan hal ini. Semoga bermanfaat.

Posted in Non- Fiction | Leave a comment

Aku tidak minta dilahirkan miskin….

Jakarta 17 Agustus 2011.

Hari ini libur 17 Agustus, aku manfaatkan kesempatan untuk ke tempat Omku… mumpung!! … karena kalau hari biasa pasti tidak sempat karena kalau pulang sudah malam. Kalau week end ? pasti sudah diajak kemana-mana sama teman-teman :) . Banyak alasan emang.. he..he..he… Seperti biasa aku memilih melewati jalan pintas yang lumayan cepat melewati daerah rumah-rumah petak yang padat .. lumayan kumuh dan banyak orang duduk di pinggir-pinggir jalan gang ini. Ada yang menaruh kompornya di pinggir jalan gang, mencuci baju dan piring dipinggiran jalan, ibu-ibu asyik ngobrol sambil belanja di abang-abang penjual sayur….. Ya… karena rumahnya tidak mencukupi maka kegiatan masak-memasak , cuci mencuci dilakukan di pinggir jalan gang bahkan ada yang menjemur kasur, baju di jalan gang itu. Uhhhh udara panas meskipun masih pagi. Aku cari-cari tissue lagi untuk mengelap keringat. Sial !!! ternyata sudah habis… bisss!! Tadi adalah tissue terakhirku. Keringat sudah banyak menetes ngga karuan…. Di kejauhan sana sepertinya ada warung kecil. Yaahhh untunglah!!
“ Bu bisa minta tissuenya satu ?“
Ibu penjual warung sedang sibuk menggoreng tempe. Seorang anak perempuan sekitar 8 tahun sedang menggendong adiknya dan menyuapinya.
“Tik ambilkan tissue buat mbaknya “
Anak itu mengambilkan tissue. Adiknya yang digendongan meronta-ronta.
“Tidak ikut upacara dik? “. Dia menggelengkan kepalanya pelan. Ibunya sepertinya mendengar pertanyaanku.
“Saya sudah suruh berhenti sekolah mbak, biar dua orang kakaknya yang laki-laki yang meneruskan sekolah, dia khan perempuan biar membantu saya mengurus rumah dan jaga warung”
“Lagipula juga tidak sanggup membiayai dia sekolah, tahu sendiri khan mbak biaya sekolah mahal”
Aku menghela nafas. “Ooooo…. Begitu ya bu”
Anak di gendongan itu sekarang mulai menangis, lama-lama bertambah kencang.
“Gimana sich Tik kamu ini disuruh menyuapi aja nggak bisa!!”
“Dia minta tempe lagi bu” kata si Atik
“Udah kasih kecap aja, ini nanti buat dijual nanti sore!!”
Aku tertegun sejenak, lalu aku tinggalkan warung itu.
66 tahun sudah Indonesiaku Merdeka, tapi gurat-gurat kemiskinan itu aku lihat di sepanjang gang ini. Rumah petak dari papan, beralas tanah dan tikar-tikar di dalamnya untuk tidur. Yahhhh pemandangan seperti ini banyak terlihat di balik gemerlapnya ibukota Jakarta tercinta ini.

Posted in Jurnal | 2 Comments

Mak Jogi: Dari Melayu mengarungi lautan nusantara

Jakarta, 26 Juli 2011

Pertunjukkan keempat Indonesia kita berjudul: Akar Melayu… Mak Jogi. Semula saya mengira budaya Melayu itu meliputi seluruh pulau Sumatra, ternyata budaya Melayu terkonsentrasi di Riau (CMIIW). Dari wisata kulinernya yang ditemui adalah nasi lemak, lemang .. itu yang khas , yang lain yang ada disitu adalah makanan umum yang ditemui di semua tempat di Indonesia. Yang istimewa kali ini aku ketemu dua bule dari Canada yang sangat excited untuk melihat pertunjukkan ini.
“ Excuse me , but can you understand the language ?”
“ We just would like to enjoy the dance performance, it must be excellent” .
Aku cuma bengong. Dua orang ini baru sehari sampai di Indonesia dan berencana dua minggu keliling Indonesia dan sepertinya tergila-gila dengan Indonesia., Mengapa kita tidak ? :)
Alkisah di suatu negeri Melayu, Baginda raja yang seorang wanita (Pepy Chandra) sedang gundah gulana karena bermimpi ada cahaya yang begitu terang mendatangi negerinya, negeri Sepancungan Daun. Dari beberapa penafsiran dari Hang Dagang (Joned), Penasihat (Effendi Gazali) , Hang Panglima raja (Ramon Damora) dan awang pengasuh (Hoesnizar Hood) diambil kesimpulan akan adanya bahaya yang akan mendatangi negeri itu. Kerajaan harus mencari air 7 muara untuk menyelamatkan kerajaan. Beberapa penasihat diutus (Hang Dagang dan Hang Panglima) tetapi awang pengasuh mengusulkan mak Jogi (Tom Ibnur) untuk diikut sertakan.
Tempat yang pertama dikunjungi adalah Tanah Minangkabau. Nuansa Minangkabau dibentuk dengan tarian silat Randai. Disini Hang Dagang yang mengandalkan uang suap dan Hang Panglima yang mengandalkan kekerasan tidak berhasil memperoleh air muara. Tetapi tanpa disangka Mak Jogi yang menggunakan pendekatan seni berhasil memperoleh air dari muara.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ditanah Jawa , di suatu tempat di gunung Dieng bertapalah seorang pertapa (Wisben) dan istrinya Nyi Thowok (Didik Nini Thowok). Di tempat ini pula Mak Jogi berhasil memikat Nyi Thowok karena sesama penari, untuk menyerahkan air muara. Hang Dagang dan Hang Panglima gagal lagi.
Perjalanan dilanjutkan ke daerah Kalimantan. Sekali lagi Mak Jogi berhasil menjalankan misinya.
Cerita dirangkai begitu apik dari séance ke séance dengan bantuan pencerita dari Aceh (Agus PM Toh) yang kali ini mendapatkan asisten dari Jawa (Gareng Rakasiwi). “Baru kali ini orang Aceh memimpin orang Jawa” katanya :) .
Memang melucu perlu kecerdasan, dan kita merasakan kecerdasan yang ditampilkan trio GAM (Joned, Wisben dan Gareng Rakasiwi). Walaupun saat-saat tertentu lelucon Jawanya terlihat begitu kental tapi tidak mengurangin nuansa kental melayu yang berasal dari tatanan apik tarian Melayu, lantunan lagu Zapin yang mendayu yang dinyanyikan oleh Radja Hafizah. Pasti sudah pernah dengar lagu ini, lagu ini pernah dinyanyikan Iyet Bustami. Yang tidak kalah menarik adalah permainan biola pemain biola ganteng, Hendry Lamiri :) .

Sungguh terpesona dengan tarian-tarian Melayu yang rancak dan elok. Tidak sabar menunggu rangkaian budaya yang digabung dari seluruh Nusantara. Semoga pada pementasan yang akan datang saya masih di Indonesia :)

Posted in Jurnal | 2 Comments

South Africa : Time for fun and adventure (3)

Cape Town, Agustus 2005

Wisata Afrika menawarkan adventure di alam liar. Kurang lebih ada 19 National Park di South Afrika. Setelah pilih-pilih akhirnya ditentukan pergi ke Karoo National Park. Tempatnya agak jauh di sebelah utara Cape Town. Dalam perjalanan menuju kesana… aku bayangkan betapa susahnya memulai kehidupan disini apabila tidak hidup di kota besar. Tanah seperti gundul, tandus, ya… ini daerah semi aride… tidak ada pohon-pohonan. Sejauh mata memandang sepanjang jalan cuma ada tanah, bebatuan dan semak perdu succulent. Jauh nun disana ada bukit-bukit tanpa pohon, katanya disanalah banyak penambangan berlian dan batuan-batuan berharga… semua orang berbondong-bondong datang kesini untuk mencari berlian yang paling nomor satu didunia.

Setelah keluar dari jalan raya kami memasuki jalan kecil….. membelah tanah tandus seperti gurun pasir… aku dapat melihat horizon… nun jauh disana. Akhirnya sampailah aku di suatu pintu gerbang … ada rumah besar dengan bendera South Africa dan Perancis dan di depannya berderet-deret rumah-rumah kecil tempat para tamu menginap. Ohhhh indahnya !!! di sekitarnya ada bunga-bunga yang berwarna warni ditanam.
Aku 2 hari disini ada safari siang dan malam ke National Park lalu ada acara makan malam dengan semua orang disini. Perjalanan siang dimulai dengan mengendarai jeep … tujuan utama mencari gerombolan gajah….!! Sepanjang jalan yang ditemui kebanyakan kudu, eland, springbok, wildebeest… Kabarnya binatang-binatang ini sangat banyak dan dagingnya banyak dikonsumsi. Setelah itu jauh nun disana kami lihat gerombolan binatang berlari kencang…. Oooo ternyata segerombolan zebra !!. “Wait.. wait a minute” Guide kami turun, melihat-lihat ada jejak binatang “still fresh” katanya . “ What is this ?” “You’ll see “. Membuat kamu penasaran, lalu kami mengikuti jejak itu. Setelah semak-semak tersibak “wowww dua ekor rhinoceros!! ” sedang berjalan santai, sepertinya sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran kami. “You can touch it” kata si guide…. Iiiiihhh ntar kalau tiba-tiba ditendang :( . Aku tarik lagi tanganku lalu naik lagi ke kendaraan.
Jalanan sepanjang National Park adalah jalan tanah kadang agak susah melewatinya apabila ada kubangan, tapi sepertinya si sopir sudah sangat ahli. Dan…. Setelah melewati dengan susah payah suatu sungai kecil… di kejauhan ada segerombolan binatang tinggi.. sekawanan jerapah. Kata guide kami, binatang ini tidak akan terusik walaupun kita di dekatnya dan menyentuhnya…. Ya aku menyentuhnya dia tetap dengan tenang menikmati makan siangnya… daun-daunan sejenis pohon akasia. Kalau aku lihat sich banyakan durinya daripada daunnya.. kalau daun sudah habis.. kawanan jerapah ini baru akan pindah. Kami akhirnya menuju jalan pulang.. target kami mencari gerombolan gajah tidak berhasil. Katanya mungkin mereka sedang mendekati semacam danau yang letaknya agak jauh dari tempat kami. Di tikungan kami bertemu dengan kerbau asli daerah itu Cape Buffalo, warnanya hitam, sedang malas-malasan tiduran, cuma memincingkan matanya waktu kami lewat.
Keluar dari area National Park, kami menemui deretan perumahan orang kulit hitam yang sebagian besar bekerja di National Park. Ada terlihat beberapa ibu-ibu dan anak-anak bermain-main, potret suatu perkampungan. Tapi yang menurut aku menyedihkan … hidup di tanah gersang ini, sepertinya tidak ada pertanian :( .
Malamnya kami menikmati makan malam bersama, jalan-jalan menuju ke rumah besar tempat makan malam dinyalakan lilin-lilin. Kami pergi menuju tempat itu mengikuti nyala-nyala lilin. Sampai di dalam sungguh sangat romantis penuh lilin-lilin dan dekorasi khas afrika. Ada yang berminat bulan madu disini.. ? Dijamin sangat bagus !! :D . Makanan disajikan ala Perancis karena katanya pemiliknya orang Perancis. Sejenis steak sapi sebagai makanan utama dan crème brule sebagai dessertnya dan tentu saja segelas wine asli South Africa. Orang Perancis yang mulai, katanya, dengan gigihnya membuka perkebunan anggur (vineyard) disini. Ada orang Perancis yang terkenal memulai vineyard di South Africa namanya Huguenots, namanya kemudian diabadikan menjadi nama tunnel di dekat Capetown.
Malamnya kami tidur nyenyak, kamar didekorasi secara etnik dengan kelambu besar menutupi tempat tidur. Penjaga berpesan untuk menutup jendela rapat-rapat takut ada binatang yang melewati pagar. Sungguh aku bersyukur bisa menikmati keindahan ini !!

Posted in Perjalanan | Leave a comment

Sebuah empati

Jakarta, July 2011

Aku tahu luka hatimu teman….
Aku tahu penderitaanmu bertahun-tahun…
Ya… kita tidak bisa memilih jalan kehidupan…
Tidak bisa memilih dari keluarga seperti apa kita dilahirkan
Kamu menanggung semua itu karena kamu kuat dan kamu sanggup
Dan mengapa beban itu semakin berat ?
Setiap kali kamu bertanya padaku
Aku hanya diam
Karena akupun tidak tahu jawabannya
Setiap kali aku melihatmu
Aku bertanya
Mengapa kamu tidak kunjung dapat menikmati kebahagiaan ?
Akupun terdiam
Karena tidak ada jawaban
Yang dapat aku berikan hanyalah telingaku untuk mendengarkan……………

Posted in Poem & Quotes | Leave a comment

Hanyut

Jakarta, July 2011

Aku ceburkan diriku ke dalam arus kehidupan ini
Aku biarkan aku menghantam ombak dan gelombang
Aku pasrah terbawa alunan dan deburan ombakmu
Karena sia-sia aku merakit perahu… sia-sia aku mendayung melawan arusmu
Sia-sia membuat penghalang ombakmu…..
Sia-sia aku mencoba mengikuti panduan kompasku…
Sia-sia mengatur dan mempertahankan layar perahuku…
Karena aku tahu itu semua akan sia-sia melawan kekuatanmu… sia-sia….
Maka aku biarkan aku tenggelam… tubuhku melayang dalam mengarungi lautan kehidupanmu..
Berharap…….berharap….. suatu saat nanti… ombak membawa aku … terdampar di pulau impian

Posted in Poem & Quotes | Leave a comment

South Africa : Time for fun and adventure (2)

Cape Town, August 2005

Minggu pagi, jalanan sangat lengang di Cape Town, entah apa selalu seperti ini. Setelah Sabtu kemarin selesai belanja-belanja untuk makan selama seminggu, tiba saatnya hari ini untuk jalan-jalan. Tujuan utama : Clock Tower, katanya merupakan suatu tempat yang harus dikunjungi. Clock Tower tempatnya dekat pelabuhan. Dari semula jalan-jalan yang aku telusuri lengang, semakin kearah pantai semakin aku mendengar suara keramaian. Dan ternyata… ooooo… apa semua orang ngumpul disini ya… Di tepi pantai terlihat banyak kapal yang berlabuh.. di tepi pantai banyak toko-toko dan restaurant-restaurant. Orang-orang ramai duduk-duduk, anak-anak bermain-main kesana kemari. Di sudut bangunan ada suatu kelompok music yang sedang memainkan music jazz !!. Ya salah satu yang terkenal dari Cape Town adalah music jazz!! Aku menelusuri pantai. Sepertinya banyak sekali turis , kebanyakan dari Eropa. Disitu ada sebuah bangunan seperti hangar, setelah saya masuk ternyata adalah pasar, tempat penjual souvenir-souvenir yang dikumpulkan disitu. Ada penjual berbagai batu-batuan, cara menjualnyapun unik, penuhi kaleng kecil, sedang atau besar dengan batu-batuan yang kamu mau. Satu kaleng kecil 10 Rand, sedang 20 Rand dan Besar 50 Rand. Ada yang jualan kalung, gelang dari bamboo, kayu dan lain-lain.Tas-tas, kaos-kaos juga ada tapi muahalll !! Aku lebih tertarik pada batu-batuan :)

Minggu berikutnya, tujuan : Kirstenbosch garden. Pernahkah kamu bayangkan kalau di tanah bebatuan bisa tumbuh bunga-bunga yang cantik? Yaaaa… buktinya ada di Kirstenbosch Garden. Bunga-bunga itu berusaha keras menembus bebatuan untuk menyembulkan daun-daunnya yang mungil, memunculkan kuncup-kuncup dan bunga yang indah dan beraneka warna !! Oh… sungguh ajaib. Bunga-bunga Proteaceae dan Ericaceae dari berbagai macam spesies dikumpulkan disini. Bahkan ada bunga nasional yang menjadi kebanggaan Afrika Selatan yaitu bunga King Protea, spesies Proteaceae yang bunganya bisa mencapai diameter 30 cm. Berbagai macam tumbuhan dari daerah semiaride juga dikumpulkan. Semiaride adalah daerah kering dengan curah hujan yang sangat rendah. Daerah seperti ini aku bilang seperti padang pasir, cuma masih ada pohon-pohon kecil dengan fleshy leaves (daunnya berdaging). Berbagai macam tumbuhan seperti ini dikumpulkan, daunnya bermacam-macam ada yang kecil-kecil, panjang-panjang dengan berbagai macam bentuk. Dan… aku melihat ada spesies yang bernama Aloe vera dengan ketinggian hampir 10 meter !! Katanya itu pohon tua. Haaa?? Aloe vera khan lidah buaya ? setinggi itu ?.

Kemudian ada juga berbagai pohon palem purba. Sungguh alam itu sangat kaya !!!

Posted in Perjalanan | Leave a comment

South Africa : Time for fun and adventure !! (1)

Cape Town, July 2005


Sudah dua minggu di Afrika Selatan aku belum kemana-mana karena setiap kali tanya teman-teman di lab selalu saja jawabannya selalu menakutkan. “Disini kamu harus hati-hati karena tidak aman, banyak tindakan kriminal dimana-mana”. Akhirnya setelah aku tanya-tanya melulu dan mereka tidak punya waktu untuk menemani mereka kasih tahu. “Kamu bisa naik kereta api ke pusat kota CapeTown tapi setiap kali pilihlah di gerbong yang depan (tiketnya lebih mahal) karena lebih aman”. Sejak runtuhnya politik apartheid, keadaan belum stabil. Meskipun sudah terjadi persetujuan antara de Klerk dan Nelson Mandela untuk memulai proses rekonsiliasi tetapi prosesnya memang sangat sulit karena sudah lamanya penerapan politik apartheid, 48 tahun !!. Dalam hal politik, orang kulit hitam sudah mulai ambil alih, dalam bidang sosial selalu terjadi insiden-insiden karena perbedaan status sosial yang besar: adanya perampokan di perumahan orang kulit putih, penjarahan tempat bisnis dan lain-lain. Wajar bila teman-teman aku yang kulit putih sangat kuatir. Tapi bila aku tanya yang kulit hitam mereka menjawab santai kamu bisa naik kereta atau taxi. Taxi yang dimaksud disini adalah seperti angkot, biasanya isinya orang kulit hitam. Orang kulit putih kebanyakan punya mobil sendiri. Wahhh kayaknya kalau disini aku akan dianggap orang Malay… orang Malay cenderung dimasukkan ke orang kulit hitam… harusnya aku nyantai saja lahhhh :)
Akhirnya aku naik kereta ke CapeTown, sampai di Capetown, stasiun kereta cukup ramai, di sebelahnya ada pasar kaki lima,menjual berbagai macam souvenir: ada yang dari kayu, banyak dari batu-batuan, kaos, pin-pin dan lain-lain. Afrika Selatan terkenal dengan produksi berliannya yang katanya kualitasnya nomer satu sedunia, selain itu ada batu-batuan lain dari yang masih mahal saphir, emerald, ruby, sampai batu-batuan yang murah. Ada bis bertingkat yang membawa wistawan keliling kota CapeTown dan berhenti di tempat-tempat tujuan wisata. Kunjungan pertama adalah table mountain !! Sepanjang jalan melewati Capetown City hall, Assembly National, Gerejanya Desmond Tutu dan lain-lain. Jadi teringat pelajaran sejarah yang dulu sering aku hafalin :) . Kota Capetown cenderung lengang, buat aku yang terbiasa kebisingan Jakarta. Setelah bus sampai di kaki Table Mountain, dari sini terlihat Table Bay dan kota Cape Town terhampar di depan…. Sungguh menakjubkan!! Magnifique .. !!! kata orang Perancis. Sebenarnya pingin sich menguji kekuatannku naik gunung untuk sampai diatas tapi berhubung waktunya sangat sedikit… jadi pakai Cable way aja lah :D .
Sampai diatas … ohhhhh lebih indah dari yang tadi. Table Mountain!! disebut demikian karena diatas seperti batu yang terpotong rata sehingga menyerupai meja.

Bukit-bukit di sekitarnya juga terdiri dari batu-batuan. Bagaimana ya terjadinya ? Tampak di kejauhan Lion head… bukit yang menyerupai Singa. Hamparan
Table Bay terlihat jelas. Konon kabarnya Table Bay pertama kali ditemukan Bartolomeu Diaz yang melakukan pelayaran dari Eropa, sejak itu Table Bay menjadi pelabuhan alam yang menjadi tempat perlindungan terhadap badai dan persinggahan kapal-kapal yang melakukan pelayaran dari Eropa ke Asia.
Tanaman yang ada di Table Mountain sangat minim karena memang terdiri dari batu-batuan. Sebagian besar didominasi oleh tanaman dari family proteacae dan ericacae yang menghasilkan bunga-bunga kecil dan berwarna-warni. Rasanya betah disini “ like in heaven” :D kayak pernah aja. Seandainya aku punya rumah disini :) .

Seharian yang menyenangkan… tapi masih banyak lagi tempat yang perlu di explore…. :)

Posted in Perjalanan | Leave a comment